Rahasia di Balik Tarian 300 Drone yang Spektakuler

Vetriciawizach, CNN Indonesia | Sabtu, 19/08/2017 16:21 WIB
Rahasia di Balik Tarian 300 Drone yang Spektakuler Pertunjukan 300 drone menjadi salah satu atraksi dalam acara Hitung Mundur Asian Games 2018. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengunjung Monas, Jakarta, pada Jumat (18/7) malam dibuat terpukau oleh tarian 300 pesawat nirawak (drone) milik Intel. Berganti-gantian drone itu mengeluarkan cahaya warna-warni dan membangun berbagai bentuk, mulai dari burung garuda hingga tulisan Asian Games dalam acara hitung mundur Asian Games 2018.

Tarian drone sendiri merupakan barang baru dalam dunia pertunjukan. Pertama kalinya tarian drone ini membuat terbelalak dunia adalah pada 2015 silam di Jerman. Intel kemudian dua kali memecahkan rekor Guiness jumlah terbanyak menerbangkan drone di saat bersamaan, yaitu 100 dan 500 drone.  

Drone ini juga mencuri perhatian pada Superbowl 2017 ketika Lady Gaga tampil di saat jeda.


Sama seperti di Jakarta kemarin, pada Februari itu Intel juga menggunakan 300 drone untuk menghiasi langit Amerika Serikat. Setelahnya, tarian pesawat nirawak itu juga hadir di festival musik Coachella dan beberapa ajang lain.

Natalie Cheung, Manajer Umum pertunjukan cahaya drone Intel, kepada CBS News menyatakan bahwa untuk setiap pertunjukkan ada ahli pemrograman, teknisi, dan animator di belakangnya. Sebelumnya mereka akan merancang tarian itu pada komputer.
Drone Intel Falcon8+ yang dipamerkan di Las Vegas. Teknologinya sama dengan yang digunakan untuk membuat tarian drone. Drone Intel Falcon8+ yang dipamerkan di Las Vegas. Teknologinya sama dengan yang digunakan untuk membuat tarian drone. (AFP PHOTO / DAVID MCNEW)

Mereka juga akan mengunggah pola tarian yang akan diikuti drone-drone itu ke dalam komputer master.

"Kami tahu pasti yang akan terjadi pada drone kami di setiap detik," kata Cheung pada wawancaranya April lalu.

Intel punya nama khusus untuk kumpulan drone itu yaitu The Shooting Star atau Bintang Jatuh. Drone-drone itu hanya memiliki satu lampu LED (light emiting-diode) tapi bisa mengeluarkan kombinasi empat miliar warna.

Setiap pesawatnya memiliki teknologi autopilot sehingga tak diperlukan satu orang pengendali untuk setiap pesawat.

Bahkan, untuk tarian 300 drone, Intel hanya menyiapkan dua pengendali dengan satu orang sebagai cadangan ketika figur utama berhalangan. Sang pengendali pun hanya mengoperasikan ratusan drone itu lewat satu komputer master.

Tarian 300 drone menjadi salah satu atraksi di acara Hitung Mundur Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Artho Viando)Tarian 300 drone menjadi salah satu atraksi di acara Hitung Mundur Asian Games 2018. (CNN Indonesia/Artho Viando)

Rekaman Video

Hanya saja, ada satu permasalahan yang dihadapi Intel terutama ketika ingin menggelar pertunjukkan di Amerika Serikat.

FAA, atau federasi keselamatan penerbangan AS, menyaratkan satu drone wajib dikendalikan satu 'pilot' dan hanya boleh dikendalikan siang hari.

Akhirnya Intel mendapatkan izin khusus sehingga satu pengendali bisa mengontrol seluruh drone lewat komputer master. Hanya saja, izin ini tidak berlaku jika pertunjukkan dilakukan di atas penonton.

Untuk pertunjukan Lady Gaga, Intel berulang kali merekam tarian itu selama sembilan hari dan mereka mendapat izin untuk menerbangkan drone maksimal 215 meter (700 kaki).

Selain masalah perizinan, satu hal lain yang bisa menghalangi pertunjukkan tarian drone adalah cuaca atau kondisi alam.

Drone-drone Intel sebenarnya bisa tahan hujan rintik dan angin ringan dengan kecepatan hingga delapan meter per-detik. Hanya saja, dikutip dari USA Today, terkadang kondisi cuata membuat GPS drone kehilangan sinyal.