logo CNN Indonesia

Kecerdasan Buatan Bisa Deteksi Orientasi Seksual

, CNN Indonesia
Kecerdasan Buatan Bisa Deteksi Orientasi Seksual
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu penelitian menyebut bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Inteligence (AI) bisa dengan akurat menerka orientasi seksual seseorang berdasarkan foto wajah.

Riset baru ini menyebut bahwa mesin tersebut memiliki "gaydar" yang lebih baik daripada manusia.

Penelitian dari Universitas Stanford ini berhasil menemukan bahwa alogaritma komputer bisa dengat tepat membedakan pria gay dan pria heteroseksual sebanyak 81 persen, dan angka itu mencapai 74 persen untuk kelompok perempuan.

Namun, penelitian ini menimbulkan pertanyaan tentang asal orientasi seksual seseorang dari sisi biologi, etika teknologi pengenalan berbasis wajah dan potensi piranti lunak semacam ini dalam melanggar hak pribadi manusia atau disalahgunakan untuk kepentingan anti-LGBT.

Mesin AI yang diuji coba dalam peneltian ini menguji sampel berupa 35 ribu foto wajah pria dan perempuan yang diunggah di satu situs kencan AS.
Peneliti Michal Kosinski dan Yilun Wang mengambil fitur-fitur foto itu dengan mempergunakan "deep neutral networks", yaitu sistem matematis canggih yang dibuat untuk menganalisis visual satu data dalam jumlah besar.

Penelitian yang dipublikasi di Journal of Personality and Social Psychology ini menemukan bahwa pria dan perempuan gay cenderung memiliki fitur, ekspresi dan "gaya penataan" yang secara "gender tidak lazim".
Teknologi kecerdasan buatan tidak hanya pada penemuan robot humanoid tetapi kini juga untuk deteksi orientasi seksual seseorang.Teknologi kecerdasan buatan tidak hanya pada penemuan robot humanoid tetapi kini juga untuk deteksi orientasi seksual seseorang. (Reuters/Kim Kyung-Hoon)
Artinya, pria gay tampil lebih feminin dan sebaliknya.

Data ini juga mengidentifikasi tren tertentu seperti: pria gay memiliki rahang lebih kecil, hidung lebih mancung dan dahi yang lebih lebar dibanding pria heteroseksual. Sementara perempuan lesbian memiliki rahang lebih besar dan dahi lebih sempit dibanding perempuan heteroseksual.

Kinerja manusia dalam mengidentifikasi preferensi seksual seseorang ternyata lebih buruk dibanding alogaritma mesin ini. Ketepatan manusia hanya 61 persen untuk kategori pria, dan 54 persen untuk perempuan.

Seperti dilaporkan harian Guardian, ketika piranti lunak ini menilai lima gambar seseorang, hasilnya lebih tepat, 91 persen untuk pria dan 83 persen untuk perempuan.

Hal ini berarti: "wajah memiliki informasi lebih banyak soal orientasi seksual dibandingkan yang bisa dilihat dan diinterpretasi oleh otak manusia," tulis para peneliti.
Penelitian ini menyebut bahwa penemuan itu memberi "dukungan kuat" pada teori bahwa orientasi seksual berakar dari hormon tertentu sebelum lahir. Ini berarti manusia memang dilahirkan sebagai gay dan mejadi gay bukan satu pilihan.

Tingkat keberhasilan mesin ini pada perempuan juga mendukung anggapan bahwa orientasi seksual perempuan jauh lebih cair.

Dampak negatif

Meski penemuan ini memiliki keterbatasan ketika menyentuh gender dan seksualitas - sampel hanya pada orang kulit putih, dan tidak ada penilaian atas transgender atau biseksual - dampak AI ini sangat besar dan mengkhawatirkan.

Miliaran gambar wajah manusia diunggah di berbagai situs media sosial dan situs milik pemerintah saat ini, dan peneliti mengingatkan bahwa data terbuka ini bisa digunakan untuk mendeteksi orientasi seksual seseorang tanpa izin.

Sangat mudah bagi seseorang untuk mempergunakan teknologi ini pada pasangan mereka yang dicurigai memiliki orientasi seksual yang disembunyikan, atau remaja mempergunakan piranti lunak ini untuk mereka sendiri atau teman-temannya.

Dampak yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah ketika pemerintah yang mempersekusi warga LGBT bisa memanfaatkan teknologi ini untuk mengungkap orientasi seksual anggota masyarakat.

Dengan demikian upaya membuat piranti lunak sejenis ini dan mempublikasikannya menjadi kontroversial.

Namun, para peneliti itu mengatakan teknologi ini sudah ada dan kemampuannya penting untuk diunggap sehingga pemerintah dan perusahaan-perusahaan bisa berperan aktif dalam mempertimbangkan risiko atas hak privasi dan perlunya upaya pengamanan dan aturan yang jelas.

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video