Google Buat Agar Asisten Virtualnya Lebih 'Hidup'

Eka Santhika, CNN Indonesia | Rabu, 18/10/2017 08:32 WIB
Google Buat Agar Asisten Virtualnya Lebih 'Hidup' Asisten virtual kian cerdas, Google tak mau ketinggalan membuat Assistant makin cerdas dan punya kepribadian (dok. REUTERS/Stephen Lam)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persaingan asisten virtual makin ketat. Belakangan ini, asisten virtual seperti Siri, Cortana, Bixby, hingga Alexa dikembangkan dengan kecerdasan buatan sehingga mereka tak lagi berbicara seperti robot. Mereka bisa menyanyi hingga melempar lelucon pada pengguna.

Tak ingin disalip oleh para rivalnya soal pengembangan asisten virtual, Google pun mengumumkan kalau mereka tengah memperkuat kepribadian Assistant. Perusahaan yang berbasis di Mountain View tersebut menyatakan kalau mereka akan membuat Google Assistant lebih hidup dan "manusiawi". 

Mereka akan membuat Assistant punya kepribadian yang lebih jenaka dan ramah. Mereka bahkan sampai mempekerjakan tim pengembangan karakter dari Pixar, Onion, dan Nintendo untuk mengembangkan karakter Assistant. 



"Tim personality untuk Google Assistant adalah tokoh-tokoh yang berasal dari Pixar, the Onion, dan Nintendo. Kami telah melakukan penelitian mengenai kepribadian dan AI. Kami juga memikirkan bagaimana kepribadian Google harus terwujud di Google Assistant. Kami yakin kalau Google Assistant merefleksikan nilai dan semangat dari Google yang dapat membantu, rendah hati, dan sedikit jenaka,” kata Ryan Germick, Principal Designer Google seperti tertulis dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (17/10).

Google juga akan memahami pertanyaan pengguna soal mengapa seseorang melontarkan pertanyaan tertentu. Misalnya, ketika pengguna bertanya, "Maukah Anda menjadi pasanganku?", Assistant tidak memberi jawaban langsung. Namun, ia mengelak dengan jawaban yang menyatakan kebahagiaan Assistant kalau pemiliknya sedang mencari komitmen lebih.

"Pertanyaan seperti ini bisa saja terlihat dangkal tapi bisa justru berangkat dari emosi yang kompleks. Meskipun mungkin tidak ada orang yang mengharapkan jawaban serius dari pertanyaan tersebut, namun Assistant akan mencoba memahami secara sistematis bagaimana satu keadaan emosional berbeda satu dengan lainnya. Terutama (terkait) perasaan yang serupa dan membingungkan," terang Google.

Oleh karena itu, tim Google akan menyediakan respon-respon yang mengandung unsur empati untuk pertanyaan serupa. Seperti ketika ada seseorang yang berbicara kepada Assistant, “Aku sedang stress berat”. Assistant akan menjawab dengan jawaban, “kamu pasti sedang banyak pikiran. Apa yang bisa kubantu?”

Pengakuan semacam ini membuat pengguna merasa dilihat dan didengar oleh seseorang. Hal ini setara dengan kontak mata.

Sementara itu, Google juga berfokus untuk memberikan nada suara dalam komunikasi antara pengguna dan Assistant. Dengan begitu, pengguna dapat lebih menerima jawaban Assistant .


"Anda akan dapat mengetahui ketika Assistant sedikit meninggikan suaranya pada awal kalimat untuk menandakan ‘tidak atau jangan’ kepada penggunanya," lanjut Google.

Di sisi lain, Google juga akan memanfaatkan riwayat pencarian pengguna di peramban untuk lebih memahami karakter pengguna. Google akan melihat apa yang paling sering ditanya pengguna dan fitur yang paling sering digunakan sebelumnya. Dengan demikian, Assistant mencoba menghindari mengulang jawaban.

Ke depan, Google berharap dapat melakukan observasi yang jangkauannya jauh lebih luas tentang preferensi pengguna berdasarkan bagaimana pengguna berinteraksi dengan Assistant.


BACA JUGA