"Memang ada beberapa negara yang lebih mahal dan lebih murah. Tapi kalau dibandingkan dengan negara padat penduduk lainnya seperti India, angka yang kita bayarkan masih lebih murah. Jadi secara umum cukup adil dan beralasan," tutur Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah di Jakarta, Senin (23/10).
Pada 21 Oktober lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengumumkan Telkomsel sebagai pemenang lelang frekuensi 2,3 GHz. Dengan nilai penawaran mencapai Rp1,007 triliun, Telkomsel menyingkirkan empat operator seluler lain yang berpartisipasi di lelang ini mulai dari Indosat Ooredoo, XL Axiata, Hutchison Tri, Net 1.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edward Ying, Direktur Planning & Transformation Telkomsel, mengatakan angka itu masih jauh lebih rendah ketika dihadapkan biaya spektrum di negara kecil yang padat penduduk seperti Hong Kong atau Singapura.
Kemenangan Telkomsel di spektrum 2,3 GHz ini disahkan melalui Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 1896 Tahun 2017.
Kemenangan ini juga berarti mereka tak bisa mengikuti lelang frekuensi di spektrum 2,1 GHz. Kendati begitu, Telkomsel mengaku masih berminat apabila ada aturan yang memperbolehkannya. (evn)