Menkominfo: Tutupnya Golden Truly Bukan Karena E-Commerce

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Senin, 30/10/2017 19:05 WIB
Menkominfo percaya bahwa e-commerce bukan jadi penyebab tutupnya sejumlah gerai ritel. Menurutnya perubahan gaya hiduplah yang jadi penyebabnya. Sejumlah toko perbelanjaan tutup. Namun, Menkominfo menampik ada korelasi hal ini dengan populernya layanan belanja online (dok. Thinkstock/Grinvalds)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar tutupnya sejumlah toko perbelanjaan akhir-akhir ini menyita perhatian publik. Muncul dugaan bahwa perkembangan industri e-commerce jadi salah satu penyebab mandulnya bisnis ritel belakangan.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara merupakan salah seorang yang tak mempercayai hubungan kausalitas itu. Menurutnya e-commerce bukan alasan utama sepinya minat masyarakat belanja di pusat perbelanjaan sekarang ini.

"Dan baru saya baca penyebab utama offline ini, lebih ke perubahan lifestyle. Masyarakat, anak-anak muda, mereka pindah ke leisure, misalnya saja liburan dan lainya," kata Rudiantara yang ditemui di kantornya di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (30/10).


Rudiantara menilai ada pergesaran yang cukup berarti di tengah masyarakat dalam membeli barang atau jasa. Jika dahulu orang-orang cenderung luwes berbelanja di toko, sekarang mereka lebih melirik layanan daring.

Alasan lain, e-commerce baru meraup dua persen pangsa pasar ritel Indonesia. Hal ini sempat diungkap oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu (22/12/16). 

Pria yang akrab disapa Chief RA itu menyatakan semua pihak harus menerima perkembangan teknologi di Indonesia. Lagipula menurutnya hal serupa juga dialami negara-negara lain di seluruh dunia, bahwa ada 'korban' yang muncul akibat kemajuan teknologi.

Transaksi daring menurutnya bisa menekan peran perantara (disintermediary), yang pada akhirnya akan menguntungkan produsen dan konsumen.

"Contoh saja Tanah Abang, sekarang ada yang berbeda. Tadinya produsen mengirim barang ke Tanah Abang, dengan adanya daring ini produsen langsung ke konsumen. Tidak melalui Tanah Abang lagi," tuturnya.

Selain itu, Rudiantara berpendapat kalaupun e-commerce yang menyebabkan sejumlah pusat perbelanjaan tutup, lantas mereka tak bisa digugat. Alasannya, teknologi hanya mengubah cara, bukan produknya.

Baru-baru ini, pusat perbelanjaan Golden Truly dikabarkan menyusul nasib nahas Lotus, Ramayana, Debenhams, dan Matahari untuk menutup gerainya. Jauh sebelumnya industri ritel sudah terpukul akibat 7-Eleven yang gulung tikar. (eks/eks)