Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara merupakan salah seorang yang tak mempercayai hubungan kausalitas itu. Menurutnya e-commerce bukan alasan utama sepinya minat masyarakat belanja di pusat perbelanjaan sekarang ini.
"Dan baru saya baca penyebab utama offline ini, lebih ke perubahan lifestyle. Masyarakat, anak-anak muda, mereka pindah ke leisure, misalnya saja liburan dan lainya," kata Rudiantara yang ditemui di kantornya di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin (30/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan lain, e-commerce baru meraup dua persen pangsa pasar ritel Indonesia. Hal ini sempat diungkap oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani beberapa waktu lalu (22/12/16).
Transaksi daring menurutnya bisa menekan peran perantara (disintermediary), yang pada akhirnya akan menguntungkan produsen dan konsumen.
Selain itu, Rudiantara berpendapat kalaupun e-commerce yang menyebabkan sejumlah pusat perbelanjaan tutup, lantas mereka tak bisa digugat. Alasannya, teknologi hanya mengubah cara, bukan produknya.
Baru-baru ini, pusat perbelanjaan Golden Truly dikabarkan menyusul nasib nahas Lotus, Ramayana, Debenhams, dan Matahari untuk menutup gerainya. Jauh sebelumnya industri ritel sudah terpukul akibat 7-Eleven yang gulung tikar. (eks)