Dalam sebuah artikel opini yang dimuat laman The Guardian, Berners-Lee menuangkan sejumlah keresahan terkait nasib ruang informasi di internet.
Satu yang bikin cemas Berners-Lee adalah makin terpusatnya arus informasi ke segelintir raksasa internet seperti Twitter, Google, Facebook, dan perusahaan turunannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedigdayaan pemain besar industri teknologi global memang bukan lagi keniscayaan. Sebanyak 87 persen hasil pencarian dilakukan melalui Google, Facebook punya 2,2 miliar pengguna aktif. Jika digabung, dua perusahaan ini menerima 60 persen lebih belanja iklan digital di seluruh dunia.
Indonesia sendiri menghadapi masalah yang dikemukakan oleh Berners-Lee itu. Salah satu contohnya adalah terungkapnya kawanan penyebar hoaks seperti jaringan Saracen hingga Muslim Cyber Army.
Kendati rasa khawatir banyak tersebar dalam tulisannya, Berners-Lee tetap optimis ruang maya yang ia bantu kembangkan bisa lebih baik.
Lihat juga:Rindu 'Warteg' di Leipzig |
Keinginan Berners-Lee menciptakan internet lebih sehat dan berguna bagi masyarakat luas sebenarnya sudah ia mulai dengan mendirikan World Wide Web Foundation. Tujuan organisasi itu adalah memengaruhi kebijakan perusahaan maupun pemerintah agar lebih berpihak pada kesetaraan digital, terutama pemerataan akses internet.
Akses internet pada dasarnya sudah menjadi hak asasi manusia seperti yang diumumkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 2016. (evn)