Uber Tabrak Pejalan Kaki, Volvo Sebut Mobilnya 'Direkayasa'

Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 20/03/2018 17:51 WIB
Uber Tabrak Pejalan Kaki, Volvo Sebut Mobilnya 'Direkayasa' Ilustrasi. (AFP PHOTO / Angelo Merendino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecelakaan yang melibatkan mobil otonom atau tanpa sopir milik perusahaan Uber di Tempe, Arizona, Amerika Serikat menyita perhatian publik dunia karena menyebabkan seorang perempuan yang menjadi korban.

Akibat insiden tersebut, Uber terpaksa menghentikan sementara program uji coba mobil bergerak otomatis. Uber mengaku bakal kooperatif selama masa penyelidikan berlansung atas kejadian di persimpangan Mill Avenue dan Curry Road itu.

Dalam uji coba mobil otonom tersebut, Uber menggunakan Volvo XC90. Pengujian ini sendiri sudah dilakukan sejak Februari 2017, sementara Volvo salah satu manufaktur yang gencar mendukung pengembangan mobil otonom yang dilakukan Uber. Sebelumnya ada nama BMW dan Ford serta Volkswagen.
Terkait insiden itu, perusahaan asal Swedia Volvo akhirnya buka suara. Mereka mengkonfirmasi bahwa SUV XC90 yang terlibat dalam kecelakaan tersebut telah menggunakan perangkat lunak yang bukan milik perusahaan, dengan kata lain telah dimodifikasi.


Di kancah otomotif dunia, Volvo XC90 hadir dengan menyuguhkan fitur-fitur keselamatan untuk penumpang dan pejalan kaki nomor wahid, yaitu road sign information, blind sport information system, queue assist, roll stability control, serta city safety auto brake (pengereman otomatis) yang aktif bekerja memanfaatkan lidar atau sensor dan kamera.

Fitur terakhir itu bisa dikatakan sebagai 'mata kedua' setelah mata pengemudi itu sendiri, di mana sanggup mendeteksi benda-benda di depan dan samping mobil mobil, seperti 'membaca' pergerakan mobil, pejalan kaki hingga hewan.
City safety berfungsi pada kecepatan hingga 30 mph (50 km per jam). Sistem ini dapat membantu mencegah tabrakan jika perbedaan kecepatan antara kendaraan kita dan kendaraan di depan kurang dari 9 mph (15 km per jam).

Jika perbedaan dalam kecepatan lebih besar, tabrakan tidak dapat dihindari. Pengemudi harus menggunakan rem kendaraan untuk mengurangi dampak benturan.

Sementara itu dari penjelasan kepolisian setempat bahwa korban yang sedang berjalan ketika itu ditabrak mobil yang tengah bergerak dengan kecepatan (65 km per jam). Mobil bergerak dalam mode otonom dengan operator yang duduk di belakang kemudi.
Jika melihat dari kecepatan mobil saat menabrak korban, fitur city safety pada XC90 dipastikan tidak berfungsi karena kecepatannya melebihi batas persyaratan yang telah ditentukan perusahaan.

Terkait penemuan baru ini, Volvo memberikan jawaban bahwa yang mengendalikan mobil itu adalah sebuah sistem yang terkomputerisasi. Mereka percaya perangkat lunak bukan lagi milik perusahaan atau telah 'direkayasa' seperti dilansir Reuters, Selasa (20/3).

Ini bukan kali pertama kecelakaan mobil autopilot. Sebelumnya pada 2016, mobil otonom Tesla menghantam truk. Dan pada Oktober 2016, mobil Uber dalam mode otonom menerobos lampu lalu.
[Gambas:Video CNN] (mik)