Seperti diketahui, pola ini bukan pertama kalinya bagi Vivo. Tepat enam bulan lalu pada September 2017, mereka juga menggunakan strategi serupa saat meluncurkan V7 Plus di Jakarta.
Terkait hal ini, General Manager for Brand Activation Vivo Indonesia Edi Kusuma mengelak disebut pihaknya kerap 'bakar uang' demi memperkenalkan perangkat terbaru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disinggung soal bujet yang terkesan tak terbatas, ia menyebut peluncuran kali ini menelan biaya kurang dari Rp100 miliar.
Klaim Vivo yang terkesan tak mementingkan penjualan produk sebagai timbal balik promosi yang habis-habisan tak sesuai dengan pernyataan mereka sebelumnya.
"Ini (strategi jor-joran) sangat worth it. Kenapa kita bekerja sama dengan sembilan media, product ambassadro, dan mengundang artis untuk show peluncuran kita tujuannya satu untuk menjadi produk yang bisa menguasai market di Indonesia," ungkapnya.
Kala itu, laporan kuartal kedua (Q2) 2017 dari International Data Corporation (IDC) menunjukkan Vivo belum masuk lima besar produsen ponsel pintar Asia Tenggara. Baru pada Q4 2017, Vivo berhasil merangsek ke peringkat empat regional. Mereka berhasil mengirimkan 7,2 juta unit ponsel sepanjang 2017 untuk merebut 7,2 persen pasar. (evn)