BMKG 'Wanti-wanti' Cuaca Ekstrem Hingga Awal Mei

Eka Santhika, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 12:06 WIB
BMKG 'Wanti-wanti' Cuaca Ekstrem Hingga Awal Mei BMKG wanti-wanti cuaca esktrem yang memicu hujan deras hingga puting beliung. (dok. AFP PHOTO / Frederic J. Brown)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cuaca ekstrem berupa hujan disertai puting beliung dan banjir terjadi di beberapa daerah di Indonesia dalam beberapa hari belakangan. Hujan disertai puting beliung terjadi di Yogyakarta dan Minahasa.

Sementara banjir terjadi di Cilegon dan Bumi Ayu, sedangkan wilayah Jakarta dan sekitarnya kerap dilanda hujan deras dalam beberapa hari belakangan. Padahal bulan April seharusnya menjadi bulan peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Drs. Herizal, M.Si, Deputi Bidang Klimatologi BMKG menjelaskan bahwa cuaca ekstrim ini disebabkan oleh fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) di skala regional.


"Selain pengaruh dinamika cuaca lokal, giatnya aktivitas cuaca juga didukung oleh aktifnya aliran massa udara basah yang lebih dikenal dengan fenomena skala regional Madden Julian Oscilation (MJO)," tulisnya dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (26/4).

MJO sendiri adalah fenomena gelombang atmosfer tropis. MJO yang berada di wilayah Indonesia saat ini telah berada di kuadran 4.

Pengaruhnya, terjadinya peningkatan penguapan. Sehingga pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah lebih tinggi.

MJO kali ini juga berkaitan dengan berkembangnya banyak pusaran di sekitar wilayah Indonesia. Pusaran ini memicu pemusatan massa udara. Terjadi pula jalur pertemuan angin (konvergensi) yang dapat memicu pertumbuhan awan.

Dari sisi iklim, kehadiran MJO ini dapat meredam suhu panas dan hari hari kering di beberapa daerah yang sudah memasuki musim kemarau.Tetapi hal itu tidak berarti musim kemarau menjadi gagal atau tertunda.

Gelombang ini merambat ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik. MJO memiliki siklus perambatan 30-90 hari.

MJO diperkirakan aktif hingga awal Mei nanti. Setelah fenomena ini selesai, kondisi atmosfer akan kembali cenderung kering lantaran sudah memasuki musim kemarau.

"Musim kemarau diperkirakan dominan di semua tempat di Pulau Jawa," kata Herizal. (eks/evn)