Sementara banjir terjadi di Cilegon dan Bumi Ayu, sedangkan wilayah Jakarta dan sekitarnya kerap dilanda hujan deras dalam beberapa hari belakangan. Padahal bulan April seharusnya menjadi bulan peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Drs. Herizal, M.Si, Deputi Bidang Klimatologi BMKG menjelaskan bahwa cuaca ekstrim ini disebabkan oleh fenomena Madden Julian Oscilation (MJO) di skala regional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
MJO sendiri adalah fenomena gelombang atmosfer tropis. MJO yang berada di wilayah Indonesia saat ini telah berada di kuadran 4.
MJO kali ini juga berkaitan dengan berkembangnya banyak pusaran di sekitar wilayah Indonesia. Pusaran ini memicu pemusatan massa udara. Terjadi pula jalur pertemuan angin (konvergensi) yang dapat memicu pertumbuhan awan.
Gelombang ini merambat ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik. MJO memiliki siklus perambatan 30-90 hari.
MJO diperkirakan aktif hingga awal Mei nanti. Setelah fenomena ini selesai, kondisi atmosfer akan kembali cenderung kering lantaran sudah memasuki musim kemarau.
"Musim kemarau diperkirakan dominan di semua tempat di Pulau Jawa," kata Herizal. (eks/evn)