Fenomena Madden-Julian Pemicu Cuaca Ekstrem di Indonesia

Ervina Anggraini, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 15:19 WIB
Fenomena Madden-Julian Pemicu Cuaca Ekstrem di Indonesia Fenomena Madden Julian jadi salah satu pemicu cuaca ekstrem yang belakangan terjadi di Indonesia. (Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi cuaca ekstrem berupa hujan disertai puting beliung belakangan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat cuaca ekstrem terjadi disebabkan fenomena Madden Julian Oscilation (MJO).

Dihimpun dari berbagai sumber, MJO pertama kali diteliti pada tahun 1971 oleh Rolan Madden dan Paul Julian menganalisis anomali angin yang bergerak dari barat ke timur di Pasifik tropis. Hasil penelitian ini kemudian mengejutkan mereka karena diketahui ada osilasi berperiode 40-50 hari yang kemudian dikenal dengan sebutan MJO.

MJO sendiri merupakan variasi intraseasonal yang kerap terjadi di daerah tropis. Fenomena ini belakangan populer sebagai bagian yang disertakan dalam kajian meteorologi sejak ada fase El Nino 1982-1983.


Akibat fenomena ini curah hujan, pergerakan angin, suhu muka laut, kondisi cuaca, dan tekanan udara yang melintasi daerah planet meningkat dari biasanya dan rata-rata terjadi dalam kurun waktu 30 hingga 90 hari. Dibandingkan fenomena intraseasonal lain, MJO memiliki sinyal paling dominan dan relatif mudah untuk diamati.

Salah satu hal paling menarik dari MJO yakni pergerakannya saat mengelilingi Bumi dari arah barat ke timur. Pergerakan paling dominan akan terlihat di sekitar samudera Hindia dan Pasifik barat.

Fenomena ini pada umumnya terbagi menjadi dua fase; fase pertama konvektif yang ditekan adanya peningkatan curah hujan di setengah bagian Bumi. Sementara fase kedua, konvektif yang disempurnakan sering dikelompokkan ke tahap berdasarkan geografis. Kedua fase ini menghasilkan perubahan awan dan curah hujan.

Pada fase konvektif yang disempurnakan, angin di permukaan akan mendesak udara hingga mengisi ruang-ruang di atmosfer. Di bagian ini, angin akan bergerak mundur kemudian meningkatkan kondensasi dan curah hujan.

Sedangkan fase konvektif yang ditekan, angin akan berkumpul di bagian atas atmosfer sehingga memaksa udara untuk tenggelam dan menyimpang di permukaan.

Perubahan curah hujan dan angin pada femonea MJO dapat memodulasi waktu dan memengaruhi kekuatan siklon hampir di semua cekungan samudera. Akibatnya, angin dingin akan berhembus dan berujung dan perubahan cuaca panas ekstrem. (evn)