Sukses Uji Sistem Nuklir Baru, NASA Bisa Jelajah Lebih Jauh

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Rabu, 09/05/2018 02:31 WIB
Sukses Uji Sistem Nuklir Baru, NASA Bisa Jelajah Lebih Jauh Sumber tenaga baru NASA, Kilopower untuk menjelajah antariksa lebih jauh. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mimpi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) untuk menjelajah luar angkasa jauh akan mendekati kenyataan setelah mereka berhasil menguji sistem tenaga nuklir terbaru.

Sistem nuklir yang NASA uji coba akrab disebut Kilopower Reactor Using Stirling Technology (KRUSTY) atau sederhananya Kilopower saja. Sebagai masa depan sumber listrik di penjelajahan antariksa, NASA memperlakukan uji coba Kilopower dengan sangat serius.

Nuklir merupakan sumber daya yang harus dipenuhi NASA untuk menelusuri misteri antariksa dengan durasi lebih panjang.


Inti cara kerja mesin nuklir Kilopower adalah pembelahan inti atom. Selama masa uji coba, NASA menjajal kebolehan mesin ini secara maksimal selama 28 jam dengan kondisi vakum udara.

"Kami mencoba segalanya dengan reaktor ini, dalam skenario normal dan tidak normal, KRUSTY berhasil melewati tes ini," ungkap David Poston yang bertanggung jawab atas badan keamanan nuklir nasional dalam keterangan resmi.

Kilopower punya ukuran sebesar kulkas. Tenaga yang mesin ini hasilkan bisa mencapai 10 kilowatt, cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik beberapa rumah tangga minimal 10 tahun lamanya. 

Empat kilowatt saja diperkirakan sudah cukup untuk menyokong misi antariksa. Proyek nuklir ini sudah jadi idaman peneliti di NASA sejak dulu.

Keberadaan Kilopower ini penting karena tenaganya yang besar, efisien, dan aman, dibutuhkan untuk perjalanan panjang astronaut atau misi nirawak lain ke tempat-tempat tak terjangkau sinar surya. 

Seperti diketahui misi-misi penjelajahan antariksa banyak mengandalkan tenaga surya yang berlimpah. Namun hal tersebut jadi kendala ketika misi penjelajahan menyasar tempat-tempat yang tak terjangkau sinar matahari.

"Saya berharap Kilopower ini menjadi bagian penting asitektur tenaga dalam misi ke Bulan dan Mars," ucap Jim Reuter, salah seorang pejabat NASA di Washington. (evn)