Peneliti Ungkap Skenario Petaka pada 2070

CNN Internasional, CNN Indonesia | Kamis, 14/06/2018 10:26 WIB
Peneliti Ungkap Skenario Petaka pada 2070 Ilustrasi Antartika. (Thinkstock/ValerieVS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketinggian air laut akan meningkat dan negara-negara kepulauan atau yang berada di pinggir samudra terancam banjir besar jika mencairnya es besar di Antartika setiap tahun tidak segera dihentikan.

Hal ini diungkapkan sembilan ilmuwan peraih penghargaan yang selama beberapa dekade terakhir mempelajari benua es itu dan juga lautan di sekitarnya.

Pada edisi terbaru jurnal Nature, mereka mengajukan dua skenario yang mungkin terjadi pada 2070 nanti: satu adalah masa depan yang teramat suram, dan satu lagi lebih menjanjikan.


Dalam skenario pertama di laporan tersebut, jika tak ada satu pihak pun bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dan suhu bumi terus meningkat, Samudra Selatan dan Antartika bisa terus mencair. Diperkirakan hampir seperempat volume es akan menghilang pada 2070 nanti.

Saat ini Antartika sendiri diyakini telah kehilangan rataan 53-71 miliar ton es per tahun pada periode 1992-2011, menurut penelitian terbaru.

Es yang mencair ini menyebabkan kenaikan permukaan air laut di seluruh dunia. Pada skenario terburuk ini, kenaikan permukaan air laut akan mencapai setengah meter lebih tinggi dari posisi sebelumnya di tahun 2000.

Para peneliti meyakini hal ini akan menyebabkan kerusakan yang nilainya mencapai US$1 miliar di Amerika Serikat saja.

Menggunakan skenario ini, rata-rata suhu dunia juga akan meningkat 3,5 derajat celcius.

Sebelumnya PBB memperkirakan kenaikan rata-rata dua derajat akan berarti petaka.

Dalam skenario optimistis, yaitu jika berbagai negara bekerja sama dan menjadikan pengurangan polusi sebagai prioritas, maka ada peluang kondisi Antartika akan tetap seperti saat ini.

Penurunan volume es akan tetap memaksa populasi anjing laut dan burung laut mengubah cara mereka mencari makan, dan hewan-hewan ini akan menemui kesulitan dalam beranak-pinak, seperti saat ini, tapi kondisi es yang stabil akan membuat frekuensi bencana ekstrem semakin berkurang. Hewan-hewan pun akan memiliki kemampuan untuk beradaptasi.

Tim peneliti yang mengerjakan teori-teori ini berharap jurnal tersebut akan memotivasi para pembuat kebijakan untuk memprioritaskan masalah Antartika.

"Satu hal penting soal memaparkan berbagai kemungkinan ini adalah bahwa ini belum berakhir, dan kita masih bisa melakukan banyak hal," ujar Rob De Conto, profesos di Universitas Massachusetts Amherst.

"Namun, jika melihat perjanjian Paris, meski setiap negara mewujudkan janji mereka, kami harus melakukan yang lebih baik dari itu." (vws)