Facebook Hapus Akun-akun Palsu Jelang Pemilu di AS

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Rabu, 01/08/2018 05:31 WIB
Facebook Hapus Akun-akun Palsu Jelang Pemilu di AS Ilustrasi Facebook. (REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook menghapus puluhan akun palsu terkait upaya politik terkoordinasi untuk memengaruhi pemilihan parlemen di Amerika Serikat yang akan digelar pada November mendatang.

Sebelumnya, Facebook dan sejumlah badan intelijen Amerika Serikat menyebut Rusia telah menjalankan propaganda serupa pada masa pemilu 2016.

Pada Selasa (31/7), Facebook menyatakan telah menghapus 32 halaman dan akun dari Facebook dan Instagram sebagai bagian dari upaya menghalau campur tangan asing selama pemilu di AS.


"Perilaku seperti ini tidak akan kami biarkan karena kami tidak ingin ada jaringan akun yang bertujuan menyesatkan publik, mengenai siapa mereka dan apa tujuan mereka," kata Facebook dalam siaran tertulisnya dikutip Reuters.


"Kami masih berada dalam tahap awal penyelidikan. Kami belum mengumpulkan semua fakta yang ada, termasuk siapa dalang jaringan akun ini," kata Facebook.

Salah satu halaman yang dihapus telah memiliki pengikut sebanyak 290.000 orang, dan sekitar 11.000 dolar AS (atau sekitar Rp150 juta) telah dihabiskan untuk menyebar iklan di media sosial tersebut. Halaman-halaman tersebut juga mempromosikan sekitar 30 acara sejak Mei 2017.

Pekan ini, Facebook telah melacak jaringan akun itu sebagai bagian dari penyelidikan terkait intervensi pemilu parlemen, tulis The New York Times.


Facebook juga pernah menyebut 126 juta pengguna media sosial di Amerika telah melihat pesan politik dari Rusia sepanjang dua tahun terakhir di Facebook. Sementara 16 juta orang mengalami hal yang sama melalui Instagram.

Adam Schiff, anggota terkemuka Partai Demokrat pada Komite Intelijen Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, mendesak Facebook segera bertindak menanggapi kelompok-kelompok asing yang berusaha memengaruhi para pemilih di Amerika.

Pemilu parlemen AS pada November mendatang akan menentukan apakah Partai Republik berhasil mempertahankan kursi mayoritas mereka, baik di parlemen maupun senat.

"Pernyataan Facebook pada hari ini membuktikan apa yang telah kita khawatirkan sejak lama, yaitu adanya aktor-aktor asing yang terus menyalahgunakan media sosial untuk memengaruhi pemilihan umum di Amerika Serikat," kata Schiff.

Pada September 2017, Facebook mengungkapkan sejumlah warga Rusia dengan nama-nama palsu telah menggunakan media sosial untuk menjaring suara pemilih sepanjang beberapa bulan menjelang pemungutan suara tahun 2016.

Akun-akun palsu itu banyak menulis tentang topik-topik kontroversial, menggelar sejumlah acara, dan membeli iklan.

(pmg)