"Kalau ada aplikasi baru mereka langsung coba, mereka tidak peduli aplikasi baru ini mengekspose data pribadi mereka," ujar Fetra.
Ia menyebut orang Indonesia pun seakan tidak peduli apabila sebuah aplikasi telah dibobol peretas. Pengguna Indonesia lebih mementingkan kenyamanan daripada keamanan dalam menggunakan sebuah aplikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan 50 persen orang Indonesia tidak akan berhenti meskipun aplikasi tersebut sudah dibobol. Oleh karena itu, pengguna aplikasi di Indonesia cukup rentan untuk dibobol oleh peretas.
Fetra kemudian mengatakan dalam mencoba aplikasi baru, orang Indonesia juga tidak memikirkan keamanannya terlebih dahulu.
Senang coba aplikasi baru
Atas perilaku itu, Fetra mengidentifikasi Indonesia sebagai "The Voyager". The Voyager adalah kaum yang terbuka dengan teknologi baru. Kendati demikian kaum ini yang rentan dengan pembobolan data.
Negara Filipina dan India memiliki perilaku yang kurang lebih sama dengan Indonesia. Kedua negara ini terbuka dengan aplikasi, tapi tidak memikirkan keamanan aplikasinya.
"Keamanan itu sesuatu aset yang harus dilindungi. Kita harus mengingatkan masyarakat. Pembocoran data ini cukup besar. Karena terdapat data-data privat di situ. Misalnya informasi alamat, gaji, saldo bank, bahkan kartu kredit," ujar Fetra.
Survei ini melibatkan 3,757 responden yang tersebar di negara Indonesia, Australia, India, China, Filipina, Singapura, Hong Kong. ada 706 responden di Indonesia. Survei dilakukan sepanjang Maret 2018. (eks/wis)