Hitung-hitungan Lokalisasi Suzuki Jimny

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Selasa, 14/08/2018 13:27 WIB
Hitung-hitungan Lokalisasi Suzuki Jimny Suzuki Jimny generasi keempat di GIIAS 2018. (CNN Indonesia/Muhammad Ikhsan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stan Suzuki di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 menjadi pusat perhatian pengunjung pameran. Salah satu yang dicari pengunjung adalah Jimny generasi keempat.

Sejarah Jimny di Indonesia menjadi salah satu alasan dan daya tarik masyarakat hingga Presiden RI Joko Widodo serta Politisi Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono datang menghampiri mobil tersebut meski belum resmi dijual di Indonesia.

Kehadiran Jimny di sana masih berstatus CBU (completely built up) langsung dari Jepang. Namun ada wacana akan melokalisasi Jimny generasi keempat. Ini telah masuk ke dalam hitung-hitungan Suzuki yang disebut-sebut guna menekan harga jualnya di Indonesia.

Presiden Komisioner Suzuki Indomobil Motor (SIM), Soebronto Laras sebelumnya sudah memberi sinyal dengan menyebut sangat memungkinkan jika pihaknya selaku operator pabrik Suzuki melokalisasi Jimny.


Minat SIM melokalisasi Jimny di Indonesia sangat besar mengingat mini Jip itu juga menawarkan pilihan mesin K15B 1.500cc empat silinder yang juga tersimpan pada Ertiga generasi kedua yang dirakit di Tambun, Bekasi, Jawa Barat. Dengan beberapa usaha tentunya lokalisasi Jimny di dalam negeri diyakini bakal terwujud.

Namun, sebelum berencana merakit Jimny, Suzuki Indomobil Sales (SIS) sempat sesumbar akan melokalisasi Ignis. Nyatanya hingga saat ini Suzuki belum juga melakukan perakitan secara lokal (CKD/completely knock down) untuk Ignis. Ignis yang beredar di jalanan Indonesia masih didatangkan dari India.

Meski masih impor, Ignis bisa dibilang city car paling populer di Tanah Air. Keberadaannya mampu mendongkrak penjualan SIS.

Dalam data penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Ignis masih menjadi pemimpin pasar city car untuk periode Januari-Juni 2018 dengan total 7.659 unit atau di atas pesaingnya seperti Honda Brio 5.887 unit, dan Datsun Cross 2.248 unit.

Pasar mobil perkotaan sendiri mencapai 17.800 unit dalam periode tersebut, sedangkan tahun lalu pasarnya sebesar 32.047 unit.

Sementara Jimny, jika dijual di Indonesia akan masuk ke segmen Low Sport Utility Vehicle (LSUV) yang di dalamnya telah diramaikan Rush, HR-V, Terios, CX-3 dengan total pasar mencapai 59.972 unit dalam waktu enam bulan (Januari-Juni 2018). Sedangkan penjualan low SUV pada tahun lalu sebesar 93.066 unit.
Masuk pasar otomotif Indonesia, Jimny akan merangsek ke segmen yang menggiurkan bagi Suzuki, apalagi dengan status 'CKD' disebut-sebut akan menurunkan harga jual kendaraan yang berujung pada peningkatan daya beli konsumen.

Untuk diingat di negeri asalnya, Jepang, harga Suzuki Jimny baru dijual mulai Rp190 juta sampai Rp 250 jutaan untuk Jimny bermesin 660 cc. Sedangkan harga Jimny Sierra mesin 1.500 cc sekitar Rp229 juta sampai Rp268 juta. Dengan embel-embel CKD, SIS dikabarkan memasang harga 'ramah' untuk Jimny.

Peluang CKD Ignis dan Jimny di Atas Kertas

Memang terlalu jauh membandingkan Ignis dengan Jimny. Tapi, tak ada salahnya menempatkan Ignis sebagai CKD mengingat karakter mobilnya cocok dengan konsumen di Indonesia, dan dari segi penjualan sudah terbukti menonjol di antara pesaingnya.

Ignis tidak boleh dilupakan Suzuki, namun berat untuk meninggalkan Jimny, apalagi Jimny sudah menempati hati masyarakat dan menjadi ikon otomotif di Indonesia. Memilih CKD Ignis atau Jimny harus dipertimbangkan secara matang, dan kesiapan mendalam. Salah langkah akan berujung rugi.
Head of 4W Brand Development and Marketing Research Suzuki Indomobil Sales (SIS) Harold Donnel yang dimintai tanggapan mengaku masih mempelajari potensi dari masing-masing model sebelum memutuskan ke jalur perakitan lokal.

"Jadi kalau sudah dapet update, akan kami kabari ya mana yang lebih dulu, apakah Ignis, Jimny atau model lain," kata Harold saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Suzuki Indonesia seperti dijelaskan Harold punya wacana melokalisasi Jimny setidaknya punya tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hingga 80 persen. Tekad SIS lainnya, yaitu mengekspor Jimny ke sejumlah negara.

"Akan lebih bagus jika bisa ekspor (Jimny) ke sejumlah negara dari Indonesia," tutup Harold. (mik)