Asosiasi: 'Flash Sale' Tak Hanya Perkara Adu Kuat Harga

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Sabtu, 08/09/2018 12:35 WIB
Asosiasi: 'Flash Sale' Tak Hanya Perkara Adu Kuat Harga Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) menyebut diskon kilat (flash sale) yang diadakan para pelaku e-Commerce tidak melulu soal harga murah. Ketua umum iDEA Ignatius Untung mengatakan pelaku e-Commerce bisa meningkatkan pelayanan ketika flash sale untuk meningkatkan brand awareness.

Menurut Untung ketika brand awareness meningkat, konsumen tidak akan berpatokan pada harga ketika flash sale diadakan. Bisa saja suatu pelaku e-Commerce memiliki layanan yang berkualitas lebih dipilih oleh konsumen dibandingkan pelaku lain yang menawarkan harga lebih murah.

"Flash sale jangan dikemas seolah-olah belanja daring itu mau menang murah aja. Justru bagaimana caranya kita mau mendorong ini agar bisa meningkatkan layanan jadi bahkan tidak paling murah tapi orang masih mau balik. Itu baru hebat," ujar Ignatius di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/9).
Untuk melihat apabila flash sale merupakan adu kuat harga artinya produk tersebut merupakan hasil subsidi. Justru akhirnya produk murah hasil subsidi ini bisa merusak harga pasar.


Ignatius mengatakan tidak jarang beberapa orang bahkan toko offline membeli produk dari flash sale untuk dijual kembali. Pasalnya harga produk di flash sale lebih murah daripada di distributor resmi.

Menurutnya flash sale dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah jual rugi agar tidak makan tempat di gudang. Cara kedua adalah melakukan subsidi produk-produk khususnya barang elektronik. Ignatius berpendapat cara kedua ini tidak bagus bagi harga pasar.
"Kami mau memastikan bahwa flash sale atau promo dilakukan tanpa merusak pasar dengan melakukan subsidi produk. Kalau jual rugi agar tidak menumpuk di gudang ya masuk akal. Tapi kalau dia subsidi barang-barang yang tidak memenuhi gudang, misalnya barang yang baru launching kan tidak mungkin," kata Ignatius.

Hal-hal seperti ini akan dikaji lebih lanjut untuk menentukan apakah flash sale ini memberikan pengaruh positif atau negatif secara global. Kendati demikian, Ignatius mengaku bahwa asosiasi tidak dapat melakukan pengawasan khusus terhadap flash sale para pelaku e-Commerce.

"Asosiasi ini sifatnya lebih untuk menjadi enabler kolaborasi sama menjaga kode etik. Kalau flash sale sudah seperti kami campur tangan ke dalam dapur masing-masing, jadi kita tidak masuk sampai sana,"kata Ignatius.

IdEA bukannya tanpa taji, Ignatius mengatakan idEA tetap bisa memberikan sosilisasi kepada para pelaku e-Commerce apabila flash sale dianggap tidak sehat.
"Kita bisa mensosialisasi ini tidak bagus , agar bergeser dari flash sale . Cara kedua adalah kalau masih tidak mau kita gandeng sebanyak-banyaknya mungkin yang mau pindah dari sana jadi konsep ini tidak laku. Jadi mereka yang tidak mau bertahan cari cara baru yang lebih menarik," ujar Ignatius.

Flash sale menurut untuk merupakan salah satu bentuk strategi marketing pelaku e-Commerce untuk meningkatkan traffic atau pembeli sebanyak-banyaknya. Minimal para calon pembeli ini bisa mengunjungi situs pelaku e-Commerce tersebut.

"Saya yakin bahwa e-Commerce melakukan flash sale dengan tujuan secara cepat menarik banyak pembeli atau traffic," kata Ignatius. (age/age)