Asal Muasal Penamaan Badai dan Angin Topan

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 20/09/2018 14:23 WIB
Asal Muasal Penamaan Badai dan Angin Topan Ilustrasi Topan Mangkhut yang menerjang China. (Foto: REUTERS/Jason Lee)
Jakarta, CNN Indonesia -- Manusia sudah mulai memberikan nama untuk badai-badai besar sejak ratusan tahun yang lalu, penyebutan sebagian besar angin topan pada awalnya menggunakan sistem angka lintang-bujur.

Sistem ini berguna bagi para ahli meteorologi yang berusaha melacak badai, tetapi dianggap membingungkan bagi orang-orang awam yang tinggal di daerah pesisir dan ingin mencari informasi tentang badai.

Setelah itu, para ahli mempelajari bahwa memberi nama kepada badai-badai tropis dan angin topan memudahkan orang untuk mengingat badai-badai tersebut dan memungkinkan mereka untuk mengomunikasikannya dengan lebih efektif.


Para ahli kemudian memberi nama kepada badai-badai besar menurut sebuah daftar nama resmi yang ditetapkan sebelum mulainya setiap musim angin topan. Kini, lembaga yang bertanggung jawab atas nama-nama badai adalah Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization).

Badai-badai tropis akan diberi nama ketika memiliki pola sirkulasi berputar dan kecepatan angin mencapai 63 km/ jam. Sementara badai tropis akan menignkat statusnya menjadi angin topan saat kecepatan angin mencapai 119 km/ jam.

Pada 1950, praktik resmi penamaan badai pertama kali dikembangkan oleh Pusat Angin Topan Nasional AS untuk badai-badai yang bermula di Samudra Atlantik. Ketika itu, badai-badai dinamai berdasarkan urutan alfabet dan nama-nama yang sama kembali dipakai di musim berikutnya.

Sebagai contoh, jika tiga angin topan pertama di tahun ini diberi nama "Able," "Baker," dan "Charlie" maka tiga angin topan pertama di musim selanjutnya juga akan memiliki nama-nama tersebut.

Untuk menghindari pengulangan nama yang menyebabkan kebingungan, pada 1953 sistem ini diperbarui dan nama-nama yang digunakan untuk badai terbatas pada nama perempuan saja.

Lebih dari 25 tahun setelahnya, tepatnya pada 1979 sistem ini kembali direvisi, sehingga badai dapat dinamai dengan nama-nama perempuan dan laki-laki.

Mengutip Earthsky, saat ini ada enam daftar nama yang digunakan untuk badai Samudra Atlantik. Daftar ini dirotasi setiap tahunnya, yang berarti daftar nama tahun ini bakal kembali dipakai enam tahun dari sekarang, yaitu pada 2024.

Namun, sejumlah nama angin topan tertentu yang memiliki dampak kerusakan yang besar 'dipensiunkan' karena alasan hukum dan historis.

Misalnya, nama Katrina tak lagi digunakan karena angin topan tersebut melumpuhkan New Orleans pada 2005 silam, demikian juga dengan nama Angin Topan Harvey yang menyebabkan banjir dan merusak daerah metropolitan Houston pada 2017 lalu. (RBC/evn)