"Yang menjadi masalah utama adalah hit yang terjadi sangat besar hanya pada suatu saat atau saat-saat tertentu saja," kata Alfons saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Rabu (19/9).
Menurut Alfons, seharusnya situs-situs yang disediakan untuk pemerintah dan sudah pasti secara rutin menerima hit dalam jumlah besar sudah mempersiapkan diri, baik dari sisi situs maupun sisi database.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Skenario pertama, dengan sistem yang ada harus menangani hit yang mendadak bengkak 100 kali lipat, maka perlu pengaturan pihak terkait untuk mengatur waktu akses," ujarnya.
Sedangkan, skenario kedua yang menurutnya lebih ideal adalah dengan memperbarui sistem yang ada sekarang sehingga menjadi lebih fleksibel dan dapat menyesuaikan diri dengan jumlah hit yang akan diterima.
"Tetapi untuk aplikasinya [situs] itu yang menjadi masalah besar, karena untuk bisa melayani dan menyebarkan beban pada cluster membutuhkan aplikasi yang cerdas dan bisa menyebarkan beban pada sistem cloud yang telah dipersiapkan," tuturnya. (rbc/evn)