Rekam Jejak Google Plus Sebelum Mati Suri

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 09/10/2018 17:20 WIB
Rekam Jejak Google Plus Sebelum Mati Suri Foto: Istockphoto/Erikona
Jakarta, CNN Indonesia -- Google+ resmi 'mati suri' selama 10 bulan hingga Agustus 2019. Keputusan ini diambil induk perusahaan Google, Alphabet Inc setelah mengungkapkan rendahnya penggunaan Google+ ditambah dugaan kebocoran data.

Google bahkan mengungkapkan 90 persen pengguna menggunakan Google+ dalam waktu kurang dari lima detik dalam setiap sesi. Akibat bug, terdapat juga dugaan kebocoran data pengguna sebanyak 500 ribu akun.

Namun, pada awal jejak perjalanan Google+, aplikasi ini sempat menjadi 'ancaman' penguasa media sosial Facebook. Berikut rekam jejak Google+ sejak 2011.
2011
Dipimpin oleh Vic Gundotra dan Bradley Horowits, Google+ diumumkan pada Juni 2011. Google+ hadir dengan memperkenalkan beberapa fitur seperti Circles (contact group) , Sparks (news feed), dan Hangout (video chat).


Dalam waktu dua minggu, Goolge+ telah mencapai 10 juta pengguna. Pada Oktober 2011 mencapai 40 juta dan pada akhir tahun mencapai 90 juta pengguna.

2012
Google mulai untuk 'memaksa' pengguna Gmail untuk memiliki akun Google+. Ini merupakan salah satu langkah dari banyak langkah integrasi 'paksaan' dari Google.

Pada bulan November, Hangout ditingkatkan fungsinya dan menjadi ujung tombak Google+ karena banyaknya aktivitas yang menggunakan platform tersebut.

Pada Desember, Google+ menambahkan fitur 'Communities' sebagai cara bagi pengguna untuk membuat sebuah topik berbasis forum.

2013
Rendahnya interaksi dan keterlibatan pengguna dalam Google+, membuatnya tidak lagi diklaim sebagai peruntuh adidaya Facebook.

Pada 2013, Google+ diproyeksikan sebagai lapisan sosial produk Google. Google+ saat ini sudah terintegrasi dengan Gmail dan Google Contact.

Google Talk digabungkan dengan Google + Messenger untuk dimasukkan ke dalam Hangout.

Pada September, Google + menginfiltrasi Youtube. Apabila pengguna ingin berkomentar di Youtube, maka pengguna harus memiliki akun Google +. Google berharap kebijakan ini lebih menghidupkan Google +.
Ilustrasi Google dan induknya. (Foto: REUTERS/Pascal Rossignol)
2014
Founding Father Google+, Vic Gundotra meninggalkan Google. Hal ini membuat para pengamat menilai Google+ adalah 'mayat hidup'. Google+ tidak lagi dianggap sebagai sebuah produk tapi sebagai platform.

Pada Juli, salah satu perubahan yang signifikan adalah melepaskan Hangouts. Hangouts dinilai sebagai produk penting nan menarik yang seharusnya tidak terikat dengan Google+.

2015
Setelah Hangout, fitur pembagian foto Google+ disadari Google layak berdiri sendiri sebagai produk standalone. Lahirlah Google Photos sebagai pengganti Google+ Photos. Google+ Photos dimatikan pada Agustus.

Google mengumumkan Google Photos memanfaatkan kecerdasan buatan dan machine learning dari Google+. Pemanfaatan ini membuat pengguna bisa mencari foto seseorang, tempat dan lain lain. Terdapat juga pembaruan pada fitur 'auto awesome' Google+. Pada akhir tahun, Google Photos memiliki 100 juta pengguna aktif bulanan.

2016
Pada Januari, Google+ dipisahkan dari produk inti dengan menghilangkan syarat untuk memiliki akun Google+ dalam menggunakan layanan Google Play Games.

Pada Agustus, Google Play Store menghentikan syarat untuk memiliki akun Google+ untuk menuliskan review aplikasi.
2017
Google seolah 'anak tiri' Google+ karena banyaknya spam dalam situs tersebut. Google+ menghilangkan tombol +1 yang bisa menampilkan jumlah share. Google berkilah hal ini untuk membuat aplikasi berjalan lebih cepat. Padahal ini dinilai karena jumlah share sudah sedikit sehingga tidak layak untuk digembar-gemborkan lagi.

2018
Pada Oktober, Google+ tersandung masalah dugaan kebocoran data pengguna. Kebocoran akibat bug ini ternyata sudah terjadi sejak 2015 dan baru ditemukan Google pada bulan Maret. Bug ini memungkinkan pengembang pihak ketika untuk mengakses data profil pengguna.

Diperkirakan ada 496,951 akun pengguna yang terekspos soal nama lengkap, email, tanggal lahir, jenis kelamin, foto profil, tempat tinggal, pekerjaan dan status hubungan. Google mengatakan sampai saat ini belum ada bukti bahwa data pengguna disalahgunakan.

Oleh karena itu, Google+ akhirnya dimatikan sementara selama 10 bulan hingga Agustus 2019. (jnp/age)