AISI Belum Bisa Menyanggupi Permintaan Menperin Airlangga

CNN Indonesia | Jumat, 02/11/2018 18:51 WIB
Pada tahun lalu, produksi motor di dalam negeri 6 juta unit. Itu berarti target ekspor motor pada tahun ini setidaknya 600.000 unit Asosiasi Sepeda motor Indonesia (AISI) belum menyanggupi target ekspor sebesar 10 persen dari total produksi motor di Indonesia. (Foto: Dok Honda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Sepeda motor Indonesia (AISI) belum menyanggupi target ekspor sebesar 10 persen dari total produksi motor di Indonesia yang diminta Menteri Perindustrian Airlangga.

Pada tahun lalu, produksi motor di dalam negeri 6 juta unit. Itu berarti target ekspor motor pada tahun ini setidaknya 600.000 unit.

Airlangga sempat menagih target itu di hadapan Ketua AISI Johannes Loman saat berpidato di seremoni pembukaan Indonesia Motorcycle Show (IMOS) pada Rabu (31/10).


"Bisa enggak pak? Sanggup enggak pak? Nunggu prinsipal atau bisa langsung? Ini kita tanya nih sama ketua asosiasinya," tanya Airlangga dari atas panggung.

Sebelum Airlangga di atas panggung, Loman memaparkan hasil pencapaian ekspor AISI selama Januari - September tahun ini, yaitu sebesar 438.530 unit. Prediksi AISI total ekspor motor pada tahun ini bisa menyentuh 530 ribu unit.

Usai seremoni Loman menjelaskan memungkinkan untuk memenuhi target 10 persen ekspor dari total produksi dalam negeri. Namun hal itu dikatakan tidak terjadi pada tahun ini.

"Memungkinkan, tahun depan kita akan ke sana. Tahun ini mungkin masih kurang ya. Tahun ini kira-kira ekspor akan 530.000 unit, sedangkan total domestiknya 6,2 juta unit - 6,3 juta unit," ucap Loman.

Loman menjelaskan agar bisa memperbesar ekspor mesti dinilai dari kemampuan kompetisi produk dan penerimaan pasar di luar negeri terhadap model yang diproduksi di dalam negeri.

Indonesia dikatakan kompetitif pada produk skuter, buat mengembangkan pasar ekspor berarti harus dicari negara-negara yang bisa menerima. Loman mengatakan kalau di luar negeri membutuhkan model sport segmen bawah, Indonesia tidak bisa kompetitif.

"Masing-masing negara itu berbeda tipe-tipenya. Contoh kalau kayak India itu yang paling laku adalah sport murah, sport yang bawah. Kalau di Indonesia itu skuter. Kalau di China mungkin bebek," ucap Loman.

(fea/mik)