Edukasi dan Fitur

Alasan Krusial Helm Harus Bulat dan Licin

CNN Indonesia | Senin, 05/11/2018 23:47 WIB
Alasan Krusial Helm Harus Bulat dan Licin Pengujian cangkang helm Arai, diinjak pria 104 kg. (Foto: CNN Indonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Helm biker seperti kita kenal sekarang punya desain bulat mengikuti kepala dan memiliki permukaan klimis. Ada alasan kuat mengapa produsen helm mempertahankan desain demikian hingga saat ini.

Menurut catatan sejarah, helm sudah digunakan manusia sejak jaman perang. Setelah otomotif menghasilkan kendaraan roda dua, kebutuhan pelindung kepala berkembang dari hanya sekadar topi atau penutup kepala sampai helm canggih yang melindungi pebalap di sirkuit.

Helm full face merupakan jenis yang paling menawarkan perlindungan maksimal ketimbang open face ataupun modular. Helm full face melindungi tumbukan dari segala sisi, hal ini penting bagi pengendara motor sebab skenario kecelakaan di jalanan tidak pernah bisa diprediksi.


Salah satu pelaku inovasi helm, Hirotoke Arai, mulai memproduksi helm biker pada masa awal di mana standarisasi global belum ditemukan. Pria asal Jepang pendiri produsen helm merek Arai ini sudah menggunakan bahan serat kaca (fiberglass) untuk Fiberglass Reinforced Plastics (FRP) dan styrofoam untuk EPS (Expanded PolyStyrene) liner sejak 1950-an.

Kombinasi FRP dan Styrofoam sebagai bahan pembuatan helm kini digunakan oleh hampir semua produsen di seluruh dunia.


Helm Penjelasan 'kinerja menangkis' helm. (Foto: Arai)


Momentum

Saat terjatuh dari sepeda motor, sangat sulit memprediksi arah benturan, objek yang ditabrak, besar kekuatan, serta ukuran tumbuhkan. Menurut hasil studi panjang Arai, bentuk helm yang paling helm ideal adalah ringkas dan sesuai dengan bentuk kepala manusia.

Dua hal itu mungkin terdengar sederhana, namun buat produsen desain seperti itu mengarahkan segalanya.

Menurut penjelasan Sakaguchi Yasuhiro, General Manager Arai, saat presentasi di hadapan wartawan di Jakarta, Kamis (1/11), kejadian fatal buat biker yaitu justru ketika helm yang menghentikan momentum saat terjatuh. Hal itu bisa kejadian misalnya saat helm yang digunakan punya sudut atau permukaan tidak rata.

Ketika momentum jatuh berhenti, tumbukan mampu mencederai leher atau bagian tubuh lainnya.

Yasuhiro memaparkan helm bulat dengan permukaan licin bisa mengulur waktu benturan. Bila licin, maka energi kinetik tidak akan terserap di satu titik, melainkan dapat diserap di berbagai tempat.

Desain seperti itu dijabarkan secara sederhana sebagai kemampuan helm untuk menangkis benturan.

"Jadi yang paling ideal, terutama bila terjadi kecelakaan, menggunakan helm yang ringkas dan bulat," kata Yasuhiro.


Alasan Krusial Helm Harus Bulat dan LicinCangkang helm Arai RX-7. (Foto: CNN Indonesia/Febri Ardani)

Helm Tidak Berubah Bentuk

Selain ringkas dan bulat, ada satu poin lagi yang harus dimiliki helm, yakni tidak berubah bentuk saat terjadi tumbukan. Guna menghasilkan produk seperti itu, produsen helm juga butuh perjuangan.

Arai mengatakan struktur helm mereka bernama CLC (Complex Laminate Construction). Penjelasan struktur ini yakni menggunakan berlapis bahan dasar komposit yang dirangkai mengacu pada truss bridge atau kaki jembatan.

Arai juga dikatakan menggunakan 'serat super' yang biayanya enam kali lipat lebih mahal, namun 30 persen lebih kuat dibanding serat kaca biasa. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa helm merek Arai berada di kelas harga premium.

Menurut Yasuhiro bagian helm paling rentan berada di area terbuka, yaitu bagian rongga visor (kaca). Solusi Arai yakni menempatkan sabuk pada bagian dahi cangkang helm, perangkat ini mirip sabuk pada desain badan tong.

 Membuktikan desain itu, cangkang helm Arai tipe RX-7 tidak retak atau pecah ketika bagian sampingnya diinjak seseorang yang bobotnya mencapai 104 kg. (fea/mik)