Alasan Penangkapan Ghosn Disebut Ingin Merger Renault-Nissan

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 21/11/2018 13:53 WIB
Alasan Penangkapan Ghosn Disebut Ingin Merger Renault-Nissan Carlos Ghosn. (Foto: REUTERS/Steve Marcus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penangkapan Carlos Ghosn di Tokyo pada Senin (19/11), disebut merupakan upaya Nissan mengandaskan rencana besar Ghosn menyatukan sepenuhnya antara Renault dengan Nissan.

Ghosn merupakan kekuatan besar yang mendorong merger antara Renault dan Nissan. Sementara itu anggota direksi Nissan menunjukan perlawanan.

Renault dan Nissan berbagi kepemilikan dalam struktur terencana sejak 1999. Ghosn yang saat ini menjabat sebagai Representative Director dan Chairman Nissan pernah mengatakan hubungan Renault dan Nissan tidak bisa dipatahkan.


Saat ini Renault memiliki 43 persen saham Nissan, namun Nissan cuma punya 15 persen saham Renault. Kondisi ini dipandang timpang buat Nissan.

Renault berhak menentukan pejabat eksekutif senior di Nissan. Sedangkan Nissan sama sekali tidak memiliki kontrol bisnis Renault.

Nikkei.com melaporkan, dua narasumber menyatakan merger bakal terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Sedangkan narasumber ketiga menjelaskan usaha merger terus dalam pembicaraan aktif.

"Direksi [Nissan] selalu dikatakan bakal melawan dengan kuat pada reorganisasi yang meneruskan status lapis kedua," kata narasumber yang dekat dengan direksi Nissan.

Dalam pernyataan resmi setelah Ghosn ditangkap, Nissan menjelaskan telah melakukan investigasi pada Ghosn terkait pelanggaran pada laporan pendapatan dan penyalahgunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Nissan sedang dalam usaha mencopot jabatan Ghosn. Sementara Renault sudah menghapus Ghosn dari jabatan chairman dan chief executive, posisi itu saat ini digantikan Philippe Lagayette.

Saat Nissan sedang dalam masa bersiap merger, hubungan Ghosn dan Chief Executive Officer Nissan, Hiroto Saikawa, menegang. Kondisinya semakin panas setelah diketahui pendapatan Nissan dipandang berkurang di Amerika Serikat dan perkembangannya kerdil di China.

Saikawa menyebut periode 19 tahun kepemimpinan Ghosn merupakan rezim dan dia menyoroti efek negatifnya. Pernyataan Saikawa bikin terkejut beberapa pihak pasalnya dia dianggap sebagai letnan Ghosn paling loyal.

Renault menolak berkomentar soal rencana merger dan Nissan tidak bisa dihubungi pada saat ini. (fea/mik)