Samsung Klaim Kuasai Bisnis Ponsel Premium dan Menengah

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 07:20 WIB
Samsung Klaim Kuasai Bisnis Ponsel Premium dan Menengah Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Samsung Electronics Indonesia mengklaim pihaknya masih menguasai segmen ponsel pintar untuk kelas menengah ke atas di Indonesia. Perusahaan asal Korea Selatan ini mengklaim berhasil mendominasi bisnis ponsel pintar di kedua segmen tersebut.

Denny Galant, Head of IT & Mobile Product Marketing Samsung Electronics Indonesia, mengatakan bahwa Samsung menguasai lebih dari 80 persen pangsa pasar ponsel pintar segmen menengah atas. Tak hanya itu, Samsung juga mengklaim pertumbuhan di kedua segmen mencapai enam kali lipat dari pertumbuhan bisnis ponsel secara keseluruhan.

"Secara pasar, pertumbuhan Samsung di segmen ini enam kali lipat di atas perkembangan pasar. Jadi pasar tumbuh 12 persen, Samsung tumbuh 72 persen year to date, Januari sampai sekarang," keasnya mengutip data GfK usai peluncuran Galaxy A9 di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (21/11).


Ponsel ini merupakan generasi penerus seri A yang menyasar kelas menengah dan milenial. Selain Galaxy A9, Samsung juga baru saja meluncurkan Galaxy A7 di tahun yang sama.

Denny menjelaskan pertumbuhan juga terjadi di segmen premium. Meski diakui pertumbuhannya tak sebesar di segmen menengah dan premium.

"Premium juga bagus yang saya ingat saat ini market kita di segmen premium itu lebih dari 70 persen," paparnya. "Seperti piramid ya makin ke atas [makin kecil pertumbuhannya]. Tapi memang masih tinggi dan tumbuh".

Sedangkan untuk kelas murah, perusahaan asal Korea Selatan ini tidak menyebutkan besaran pangsa pasarnya. Namun, menurutnya perusahaan masih akan menawarkan produk kepada pengguna feature phone yang baru bermigrasi ke ponsel pintar dari yang ingin 'naik kelas'.

"[Ponsel entry level] masih ada. Samsung tetap melihat segmen low karena tujuan kami memenuhi semua konsumen di semua segmen. Marketnya di Indonesia juga masih besar dan kita masih berusaha untuk memenuhi kebutuhan orang yang baru pertama kali pindah ke smartphone dari feature phone atau pengguna smartphone entry ke mid," terang Denny.

Persaingan bisnis segmen ponsel murah belakangan kian kompetitif dengan kemunculan sejumlah merek, sebut saja Realme dan Xiaomi yang 'obral' harga secara agresif. Menangapi persaingan di kelas ini, Denny mengaku tidak mempermasalahkan strategi yang diusung kompetitor.

"Oke oke aja dari persaingan itu kan yang diuntungkan itu konsumen sehingga itu juga memacu kita untuk memberikan lebih untuk konsumen. Nggak khawatir," pungkas Denny. (kst/evn)