Pengamat: Aplikasi Malware Masih Ada di Toko Aplikasi Resmi

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 06:05 WIB
Pengamat: Aplikasi Malware Masih Ada di Toko Aplikasi Resmi Ilustrasi. (REUTERS/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan keamanan internet dan antivirus ESET baru saja merilis informasi mengenai 580 ribu pengguna Android mengunduh malware berkedok gim di toko aplikasi resmi Google, Google Play Store. Pengamat keamanan siber dari Vaksin.com Alfons Tanujaya mengakui peredaran gim berisi malware sangat mungkin terjadi.

Alfon mengatakan pihak Google kewalahan untuk menyaring atau memfilter aplikasi-aplikasi malware ini. Pasalnya banyak pengembang aplikasi nakal yang justru bekerja sama dengan pengembang malware demi meraup keuntungan.

"Bisa sekali, idealnya Play Store mengawasi semua aplikasi. Tapi aplikasi banyak sekali dan kalau difilter satu per satu menghabiskan banyak waktu," kata Alfons ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (21/11).
ESET bahkan mengatakan dari 13 gim yang berisi malware, 2 aplikasi masuk kategori trending di Google Play Store. Alfons mengatakan untuk menghindari malware ini, sebaiknya pengguna hanya mengunduh aplikasi yang memiliki jutaan review.


Pasalnya review juga bisa disabotase oleh para peretas dengan memberikan review-review palsu demi meningkatkan kepopuleran.

"Sebaiknya unduh berdasarkan Editor's Choice, yang install minimal jutaan, ratingnya minimal 4 ke atas, komentar reviewnya jutaan. Dan yang paling penting jangan unduh dari luar Play Store," kata Alfons.

Di luar itu, terkadang kategori trending juga dijadikan patokan bagi pengembang malware untuk membayar pengembang gim agar bisa memasukkan malware.

Alfons mengatakan kemungkinan besar pengembang malware membayar pengembang gim untuk menyusupkan malware atau virus ke aplikasi.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan pengembang gim ini tertipu karena malware ini juga disembunyikan dalam bentuk iklan. Tentu saja menurut Alfons, pengembang gim senang apabila ada pemasukkan dari iklan.

"Pembuat Malware membayar pembuat aplikasi populer untuk memasukkan kode atau sejenis iklan. Tapi diam-diam dirubah jadi malware. Pembuat malware mengaku tidak sampai merusak atau melakukan aktivitas malware ke pengembang gim," ujar Alfons.

Alfons mengatakan jenis malware ini cukup membahayakan karena bisa menyalah gunakan sumber daya di ponsel, mencuri data, hingga menghancurkan perangkat korbannya.

Alfon mengakui App Store miliki Apple secara de facto memang lebih aman daripada Google Play Store. Pasalnya selain dari segi keamanan, jumlah gim yang beredar di Google Play Store jauh lebih banyak dari App Store.

"Tapi harus diakui kerja keras Apple memberikan keamanan yang lebih tinggi dibandingkan Google. Walaupun aplikasinya lebih sedikit dari Play Store dengan perbedaan sekitar 600 ribu sampai 800 ribu aplikasi," ujar Alfons. (jnp)