Diskriminasi yang dialami Rashid berawal saat ia mengumpulkan data kekuatan WiFi di seluruh pusat perbelanjaan di Eropa untuk meningkatkan akurasi Google Maps. Pria asal Maroko ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang mengumulkan data kekuatan WiFi untuk bisnis Google di Inggris lewat proyek bernama 'Expedite'.
'Uang damai' yang ditawarkan Google disebut sebagai upaya agar Rashid tidak mengumbar kasus yang dialaminya. Namun, ia memutuskan untuk tetap membuka pengalamannya usai aksi unjuk rasa massal karyawan Google awal November silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penampilan membuat saya merasa benar-benar terbuang dan sempat mendorong untuk bunuh diri," ucapnya.
"Ada pengabaian terhadap aspek keselamatan dan kepentingan kerja. Penelitian ini dilakukan secara rahasia dengan mengorbankan keamanan kontraktor Google yang sesuai dengan profil stereotip Muslim atau Arab," ucap Rashid kepada The Guardian.
Kasus yang dialaminya membuat ia beranggapan bahwa Google tidak benar-benar memikirkan bagaimana kontraktor di lapangan yang berlatarbelakang Arab diperlakukan karena 'tidak ada keturunan Arab dalam daftar perancang proyek'.
"Semua karyawan dan kontraktor diberikan panduan yang jelas yang menguraikan detail proyek dan peran mereka, dan mereka diinstruksikan untuk berterus terang tentang fakta bahwa mereka bekerja atas nama Google", ujar juru bicara Google kepada Telegraph, Selasa (27/11).
Sebelumnya awal November silam aksi global yang melibatkan 20 ribu karyawan Google di seluruh dunia melakukan protes atas dugaan perusahaan yang dianggap melindungi eksekutif senior atas kasus pelecehan seksual dan penyerangan terhadap karyawan.
Aksi tersebut berhasil mengubah aturan internal agar Google menghentikan larangan pada karyawan agar tidak membawa kasus pelecehan seksual ke pengadilan. (kst/evn)