Bungkam Kasus Diskriminasi Ras, Google Beri Sogokan Rp74 Juta

CNN Indonesia | Selasa, 27/11/2018 10:12 WIB
Bungkam Kasus Diskriminasi Ras, Google Beri Sogokan Rp74 Juta Ilustrasi. (Foto: REUTERS/Charles Platiau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Google diketahui berupaya membungkam salah seorang warga keturuan Arab atas kasus diskriminasi yang dialaminya dengan menawarkan uang sogokan sebesar 4.000 poundsterling atau sekitar Rp74 juta. Pria dengan nama samaran Ahmed Rashid menyebut ia ditawari uang untuk menyudaki kasus rasis yang menimpanya.

Diskriminasi yang dialami Rashid berawal saat ia mengumpulkan data kekuatan WiFi di seluruh pusat perbelanjaan di Eropa untuk meningkatkan akurasi Google Maps. Pria asal Maroko ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang mengumulkan data kekuatan WiFi untuk bisnis Google di Inggris lewat proyek bernama 'Expedite'.

'Uang damai' yang ditawarkan Google disebut sebagai upaya agar Rashid tidak mengumbar kasus yang dialaminya. Namun, ia memutuskan untuk tetap membuka pengalamannya usai aksi unjuk rasa massal karyawan Google awal November silam.


"Saya adalah satu-satunya di tim yang terlihat dari Arab, dan saya sering dihentikan dan dilecehkan oleh petugas keamanan dan pusat perbelanjaan. Saya tidak diizinkan memberi tahu mereka bahwa saya bekerja untuk Google dan melakukan pekerjaan itu," ucapnya.

Ia mengaku khawatir ditangkap saat keluar rumah untuk bekerja selama 10 bulan terakhir merampungkan proyek tersebut. Menurutnya, Google seakan abai terhadap faktor keselamatan kerja, terlebih bagi mereka yang 'berbeda' latar belakang.

Akbat rasa takut yang dialaminya, Rashid mengaku sempat terdorong untuk melakukan bunuh diri.

"Penampilan membuat saya merasa benar-benar terbuang dan sempat mendorong untuk bunuh diri," ucapnya.

"Ada pengabaian terhadap aspek keselamatan dan kepentingan kerja. Penelitian ini dilakukan secara rahasia dengan mengorbankan keamanan kontraktor Google yang sesuai dengan profil stereotip Muslim atau Arab," ucap Rashid kepada The Guardian.

Kasus yang dialaminya membuat ia beranggapan bahwa Google tidak benar-benar memikirkan bagaimana kontraktor di lapangan yang berlatarbelakang Arab diperlakukan karena 'tidak ada keturunan Arab dalam daftar perancang proyek'.

Di sisi lain, juru bicara Google menyanggah klaim tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya telah sering bekerja sama dengan penyedia layanan untuk mengukur kekuatan sinyal WiFi dan kerap menginstruksikan pekerja untuk membuka identitas mereka.

"Semua karyawan dan kontraktor diberikan panduan yang jelas yang menguraikan detail proyek dan peran mereka, dan mereka diinstruksikan untuk berterus terang tentang fakta bahwa mereka bekerja atas nama Google", ujar juru bicara Google kepada Telegraph, Selasa (27/11).

Sebelumnya awal November silam aksi global yang melibatkan 20 ribu karyawan Google di seluruh dunia melakukan protes atas dugaan perusahaan yang dianggap melindungi eksekutif senior atas kasus pelecehan seksual dan penyerangan terhadap karyawan.

Aksi tersebut berhasil mengubah aturan internal agar Google menghentikan larangan pada karyawan agar tidak membawa kasus pelecehan seksual ke pengadilan. (kst/evn)