Asal Usul Kelahiran Buzzer

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Kamis, 10/01/2019 15:30 WIB
Asal Usul Kelahiran Buzzer Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berawal dari salah satu strategi marketing, buzzing berubah menjadi salah satu strategi untuk mendongkrak elektabilitas dan popularitas tokoh atau partai politik. Buzzer atau pendengung bersembunyi di balik topeng dan mengatasnamakan dirinya sebagai suara publik di media sosial.

Berdasarkan penelitian CIPG, buzzer mulai lahir bersamaan dengan kelahiran Twitter pada 2009. Awalnya, buzzer berkembang menjadi sebuah strategi pemasaran untuk mempromosikan produk guna mendongkrak penjualan.

Fungsi buzzer kemudian berubah pada 2012 ketika pasangan Jokowi-Ahok menggunakan pasukan media sosial untuk mendorong segala wacana atau isu politik.


"Buzzer di tanah air mulai populer dalam Pilkada Jakarta tahun 2012. Saat itu pasangan Jokowi Ahok berhasil menang dengan mengerahkan "pasukan medsos" bernama Jasmev, atau Jokowi Ahok Social Media Volunteer," kata pengamat media sosial Pratama Persadha kepada CNNIndonesia.com baru-baru ini.
Fungsi buzzer kemudian kembali digunakan saat Pipres 2014. Saat itu Pratama mengatakan kedua paslon menggunakan buzzer.

Senada dengan Pratama, seorang mantan buzzer Rahaja Baraha juga mengakui pertama kali penggunaan buzzer itu adalah saat Pilpres 2009. Namun saat itu, penggunaan buzzer ini masih sangat minim.

"Twitter masuk 2009 baru mulai heboh buzzer. Kemudian 2009 Pilpres tapi belum terlalu banyak. 2012 dan 2014 maksimal, kemudian 'boom' ada di setiap pemilu," ujar Rahaja.

Rahaja mengatakan buzzer memiliki peran saat Pilkada DKI Jakarta 2012. Kemudian kembali digunakan pada Pilpres 2014. Buzzer yang merasa bahwa ini merupakan lahan basah tentu tak kuasa untuk menolak ajakan tokoh politik atau partai politik.

"Awalnya panas pada 2012 kemudian ada momen, influencer ditarik buat bantu giring opini dan berlanjut pada pilpres 2014," kata Rahaja.
EMB- Asal Usul Kelahiran BuzzerIlustrasi Twitter. (Foto: Herman Setiyadi)
Pengaruh Kuat Bentuk Opini Publik

Ditemui terpisah, peneliti CIPG Rinaldi Camil mengatakan para influencer di media sosial memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi suara publik. Misalnya dalam hal ini, mereka memiliki kemampuan kelas wahid untuk membentuk opini publik. 

"Influencer bisa menjalankan peran sebagai buzzer, tapi tidak semua influencer itu buzzer. Influencer bisa disebut buzzer itu ketika ia memviralkan pesan. Kapabilitas itu dimiliki oleh influencer karena ia punya pasukan buzzer juga dan dianggap memiliki kapabilitas mumpuni," ujar Rinaldi.

Kekuatan besar ini mengakibatkan penetrasi isu-isu politik yang digaungkan buzzer menyebar dengan cepat. Pratama mengatakan media sosial juga memberikan alat terbaik untuk memberikan konten-konten tepat sasaran kepada khalayak.

Algoritme seluruh media sosial juga membuat konten-konten pesanan menjadi tepat sasaran dan efektif kepada khalayak yang hendak dituju. 
Media sosial menjadi tempat yang nyaman karena algoritme mengatur konten yang pengguna sukai. Fenomena ini dinamakan Echo Chamber yang berarti pengguna media sosial berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa.

Pratama juga tak heran apabila penyebaran konten di media sosial sangat cepat di media sosial. Mengingat banyaknya jumlah buzzer beserta akun-akun bodong yang melakukan reposting konten-konten tersebut.

Pratama bahkan mengatakan beberapa kelompok buzzer membentuk suatu jaringan besar untuk saling membagikan dan komentar di konten-konten pesanan klien.

"Platform media menyediakan tools untuk menyebarkan konten dengan sangat efektif, baik berbayar maupun tidak. Pemakaiannya sangat efektif dan bisa mengumpulkan sebagai masukan untuk konten-konten selanjutnya," kata Pratama.
Pratama mengatakan masa depan buzzer sangat cerah. Prospek buzzer politik ataupun buzzer pemasaran sangat dibutuhkan di era digital untuk mendorong popularitas. Ia mengatakan buzzer tak melulu harus dipandang negatif yang berpihak kepada satu partai politik atau tokoh politik.

Pasalnya dari segi marketing, buzzer juga digunakan untuk mendongkrak popularitas produk-produk di mata warganet.

"Buzzer sendiri sebenarnya tidak selalu negatif. Karena ada juga jasa buzzer untuk mengangkat konten atau tokoh secara positif. Dengan semakin terkoneksinya manusia satu sama lain, keperluan akan buzzer memang tinggi. Selain di dunia politik, buzzer juga sangat dibutuhkan di dunia bisnis," ujar Pratama.

[Gambas:Video CNN] (age/age)