Cara Kerja Seismograf

CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 15:23 WIB
Cara Kerja Seismograf Ilustrasi (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di negara yang dikelilingi gunung berapi aktif seperti Indonesia, gempa kerap terjadi baik dalam skala kecil maupun besar. Gempa besar bisa membawa bencana lainnya termasuk tsunami, tanah longsor hingga likuefaksi.

Untuk mendeteksi gempa, para ilmuwan menggunakan alat bernama seismograf. Bagaimana alat ini bekerja mencatat gempa?

Pada dasarnya seismograf dipasang di permukaan Bumi sehingga ketika tanah mulai bergetar, getaran itu ikut menggoyangkan cangkang dari instrumen bergerak seismograf. Getaran ini juga menggoyangkan pena pendulum yang ada di bawah massa pemberat yang akan mencatat pergerakan dan waktu terjadinya tremor atau getaran, seperti dikutip dari Live Science


Sejak 10 tahun lalu, Indonesia telah menggunakan broadband seismometer yang memanfaatkan frekuensi agar laporan didapatkan secara real time. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menjelaskan seismograf itu dipakai sejak Tsunami Aceh 2004.

Jangkauan frekuensi yang dimiliki broadband seismograf lebih luas dari pada seismograf biasa. Frekuensinya berkisar antara 0,01 hingga 50 Hertz. Dia sensitif terhadap perubahan suhu dan atmosfer pula.

Cara kerjanya adalah dengan mendeteksi dan merekam getaran. Lantas data yang terekam, dikirim menuju amplifier untuk diteruskan ke alat konversi digital dari data analog untuk diteruskan ke komputer.

Piranti lunak di dalam komputer kemudian mengolah datanya untuk menghasilkan broadband seismograf. Umumnya piranti lunak yang digunakan adalah NetRec atau MnoST.

Sementara itu khusus untuk Anak Gunung Krakatau, BMKG fokus untuk memantau dampak dari aktivitas anak gunung tersebut dengan broadband seismograf ini. Dampak dari aktivitas gunung tersebut berbahaya, mulai dari longsoran di dalam laut hingga tsunami.

"Secara otomatis kalau semuanya mendeteksi atau tiga mendeteksi kami bisa tahu sumber getaran dan kekuatannya berapa, kalau signifikan kami bisa keluarkan warning," lanjut Rahmat.

Untuk itu, deteksi gempa dengan skala lebih kecil dari 3,4 sampai 3,5 magnitudo dilakukan. Hal ini merujuk pada kejadian di Selat Sunda di mana diperkirakan gempa sebesar 3,4 M mampu menyebabkan tsunami setinggi 2-5 meter. (kst/eks)