Longsor Anak Krakatau Picu Tsunami Telah Diprediksi 1995

CNN Indonesia | Minggu, 30/12/2018 14:49 WIB
Longsor Anak Krakatau Picu Tsunami Telah Diprediksi 1995 Aktivitas Gunung Anak Krakatau. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Profesor Hery Harjono dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam sebuah penelitian yang ditulis oleh Christine Deplus dkk pada 1995 telah memprediksi pertumbuhan Gunung Anak Krakatau yang miring ke satu sisi. Dalam perkiraan tersebut, peneliti juga memperkirakan potensi tsunami akibat kemiringan ke satu sisi saja.

Pertumbuhan Anak Krakatau yang cenderung ke arah barat daya terjadi sangat cepat karena berstatus sangat aktif. Pertumbuhan ke barat daya juga dinilai ke arah yang curam dibandingkan ke sisi lainnya.

"Tentu ini merupakan bagian yang labil dan jika melorot atau longsor tentu dapat memicu tsunami," jelas Hery melalui keterangan resmi.


"Sayap barat daya Anak Krakatu yang curam karena tumbuh ke arah barat daya yang membuat masyarakat tidak bisa mengacuhkan tanah longsor di sepanjang sayap ini. Beberapa meter tsunami mungkin terjadi di sana pada tahun 1981 (Carmus et al., 1987; Sigurdsson et al., 1991). Jelas survei yang lebih terperinci dari lereng ini harus direalisasikan di masa depan," imbuhnya seraya mengutip tulisan Deplus dkk.

Penelitian berjudul "Strukur dalam komplek Gunung Krakatau (Indonesia) dari data graviti dan batimeri" dengan meneliti bagimana postur pulau-pulau di komplek Krakatau, termasuk Anak Krakatau itu sendiri.

Berdasarkan data batimeri, Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api muda yang berada di ujung kaldera yang memiliki kondisi tidak stabil.

Pada tahun 1919, sisi kaldera sudut kemiringan Gunung Anak Krakatau mencapai 18 derajat. Namun sejak 1928 pertumbuhannya teritung cepat dengan sisi kaldera sudut kemiringannya mencapai 29 derajat.

Setelah erupsi bertahun-tahun, Anak Krakatau tidak mengisi kekosongan di kedua bagian dengan sama. Peneliti saat itu melihat sisi kanan lereng barat bawah setidaknya memiliki tingkat kecuraman sebesar 15 derajat.

Untuk itu, Hery mengatakan pemetaan dasar laut di kompleks Anak Krakatu perlu dilakukan sekarang juga. Terlebih, universitas dan lembaga penelitian kebumian di Indonesia sudah satu atap.

Pemetaan dasar laut di kompleks Krakatau adalah keharusan tak usah menunggu datangnya tsunami berikutnya. Itu tak sulit dilakukan. Barangkali yang perlu juga dipikirkan apa pemicu lonsoran itu? " ujar pria lulusan Geologi Institut Teknologi Bandung) ITB ini. (kst/evn)