Peretas Curi Data 1.000 Pembelot Korut yang ada di Korsel

CNN Indonesia | Minggu, 30/12/2018 01:48 WIB
Peretas Curi Data 1.000 Pembelot Korut yang ada di Korsel Ilustrasi (Istockphoto/gorodenkoff)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Korea Selatan (Korsel) mengungkap terjadi peretasan yang menyebabkan bocornya informasi pribadi dari hampir 1.000 orang pembelot Korea Utara (Korut). Kebocoran data ini terjadi setelah peretas tak dikenal berhasil membobol akses ke pusat data agensi pemukiman.

Mengutip Reuters, Jumat (28/12), Pemerintah Korea Selatan menuturkan data pribadi yang berhasil dicuri mencakup nama, tanggal lahir dan alamat dari 997 pembelot Korut.

Kebocoran data ini bermula dari terinfeksinya komputer agensi pusat data di Hana, selatan Kota Gumi oleh virus perangkat lunak berbahaya.


"Malware itu ditanam dalam email yang dikirim oleh alamat internal," kata sumber yang dirahasiakan.

Hingga saat ini, pejabat pemerintah Korea Selatan menolak untuk mengkonfirmasi keterlibatan Korea Utara dalam peretasan ini. Mereka juga belum bisa menjabarkan motif peretasan. Kepolisian Korea Selatan tengah menyelidiki dalang serta motif peretasan itu.

Pemerintah memastikan tidak ada dampak negatif kepada para pembelot Korea Utara atas peretasan data tersebut.

"Kami menyesal atas kejadian ini, dan kami akan melakukan berbagai upaya untuk mencegah kejadian serupa (terjadi lagi)," ungkap pejabat Pemerintah Korea Selatan.

Sebagian besar pembelot Korea Utara mempertaruhkan hidup mereka untuk lari dari kemiskinan dan penindasan politik. Pemerintah Korea Utara sendiri mengecam mereka sebagai 'sampah manusia'. Tidak hanya itu, Pemerintah Korea Utara kerap menuduh mata-mata Korea Selatan sengaja menculik para pembelot tersebut.

Kasus pelanggaran data antara Korea Utara dan Korea Selatan memang kerap terjadi. Sebelumnya Pemerintah Korea Selatan pernah menuduh Korea Utara atas serangan siber pada Kementerian Pertahanan.

Penjahat siber itu berhasil mencuri dokumen rahasia kementerian Pertahanan. Namun demikian, media Pemerintah Korea Utara membantah bertanggung jawab atas serangan siber itu. (ulf/eks)