Grab Buka Suara Ungkap Alasan Akuisisi Uber

evn, CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 18:18 WIB
Grab Buka Suara Ungkap Alasan Akuisisi Uber Ilustrasi akuisisi Uber oleh Grab. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hooi Ling Tan, co-founder Grab akhirnya angkat suara membuka alasan aksi akuisisi Uber pada Maret lalu. Menurutnya, akuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara tak ubahnya misi yang dianggap tak mungkin meski berujung nyata.

"Saat kali masuk ke Asia Tenggara, Uber sangat agresif lewat promo dan insentif bagi pengemudi. Selain telah dikenal banyak orang, mereka juga punya banyak insinyur dari Silicon Valley dengan dana tak terbatas dan kemampuan yang tak perlu diragukan," ucap Hooi Ling Tan saat diskusi media, baru-baru ini di Jakarta.

Perempuan berambut pendek ini mengakui jika aksi korporasi ini sebagai aksi yang saling menguntungkan kedua pihak. Pasalnya, sebelum bisnis di Asia Tenggara akuisisi oleh Grab, Uber sudah tersedia di delapan negara.
"Sebelum diakuisisi, layanan Uber sudah ada di delapan negara dan bisnis mereka sangat kuat. Tapi hanya di satu negara yakni Indonesia layanan mereka kurang berkembang," imbuhnya.


Ia tak memungkiri jika bisnis Uber sudah sangat besar di Silicon Valley, namun tidak demikian di Asia Tenggara.

Hooi Ling mengaku pihaknya mengambil langkah berani dengan niat akuisisi Uber. Selain menjadi pemegang saham mayoritas, Grab juga mendapatkan akses ke pengembangan teknologi yang dimiliki Uber.

"Kami memiliki akses untuk mempelajari teknologi mereka. Kami juga bisa belajar setiap hari dari CEO Uber Dara [Khosrowshahi] untuk terus berkembang. Jadi kerja sama ini saling menguntungkan," ucapnya.
Ia menekankan Grab memiliki pertimbangan tersendiri saat memutuskan mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara. Bisnis yang menjangkau area dan layanan yang hampir sama menjadi alasannya.

"Sebelum akuisisi, Uber hadir di delapan negara di Asia Tenggara di mana pada tujuh negara Uber sangat aktif. Grab juga hadir dan ekspansi di delapan negara yang sama," ucapnya.

Sebelumnya pada Maret lalu, Grab mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara dengan skema tukar guling saham. Dalam akuisisi ini Uber menjual bisnis di Asia Tenggara ke tangan Grab dan Uber memiliki 27,5% saham di perusahaan yang berbasis di Singapura tersebut. (evn/evn)