Jaksa Disebut Minta Ghosn Teken Berkas Pengakuan

REUTERS, CNN Indonesia | Minggu, 06/01/2019 09:54 WIB
Jaksa Disebut Minta Ghosn Teken Berkas Pengakuan Carlon Ghosn. (REUTERS/Regis Duvignau)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jaksa penuntut dari Pengadilan Jepang dikabarkan menginginkan Carlos Ghosn, mantan CEO Nissan yang ditahan karena kasus pelanggaran kepercayaan dan penggunaan uang perusahaan, untuk segera menandatangani berkas pengakuan atas pelanggaran yang dituduhkan kepadanya.

Permintaan jaksa penuntut ini disampaikan jelang berakhirnya masa penahanan Ghosn pada 11 Januari mendatang.

Masa penahanan ini diperpanjang dari batas waktu yang ditetapkan sebelumnya pada 21 Januari 2018 karena Pengadilan Jepang kembali menemukan dakwaan baru untuk Ghosn.


Hal ini diungkap Anthony Ghosn, putranya kepada Journal du Dimanche (JDD), surat kabar mingguan Prancis, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (6/1).

Meski begitu, menurut putranya, pengacara Ghosn sejatinya belum melihat berkas kasus secara lengkap dari jaksa penuntut. Ia juga belum diizinkan untuk bertemu dengan ayahnya.

"Dari apa yang saya mengerti, dalam sistem Jepang, ketika seseorang ditahan, jaksa mengungkapkan sedikit demi sedikit unsur-unsur yang ia miliki. Pada setiap kesempatan, ayah saya kemudian membagikan rincian ini dengan pengacaranya," ungkapnya.

Sebelumnya, para ahli hukum Jepang pernah menyampaikan bahwa jaksa penuntut kerap mencoba memaksa pengakuan dari tersangka, termasuk untuk kasus Ghosn.

Namun, wakil jaksa penuntut di Kejaksaan Distrik Tokyo, Shin Kukimoto membantah hal itu dan menyatakan tidak ada metode seperti itu yang digunakan pada kasus Ghosn.

Sementara Ghosn dijadwalkan tampil pertama kali di depan umum pada persidangan terbuka yang akan digelar pekan depan atau tujuh minggu setelah penangkapannya sejak 19 November 2018.

Ghosn dikabarkan meminta sidang terbuka untuk menyampaikan seluruh alasan penahanannya.

"Untuk pertama kalinya, ia akan dapat menjawab tuduhan terhadapnya, untuk memberikan versinya tentang peristiwa tersebut," katanya.

Ghosn sebelum ditangkap atas tuduhan melanggar kepercayaan dan penggunaan uang perusahaan untuk kerugian investasi pribadi senilai sekitar US$6,6 juta (sekitar Rp236 miliar) yang dialihkan kepada Nissan pada 2008.

(uli/ard)