Sempat Hidup, Bibit Tanaman yang Dibawa ke Bulan Mati

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 17/01/2019 13:45 WIB
Sempat Hidup, Bibit Tanaman yang Dibawa ke Bulan Mati Ilustrasi bulan. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu bibit yang diuji ilmuwan China gagal tumbuh di Bulan. Tunas kapas dikabarkan mati lantaran suhu sangat dingin di permukaan Bulan pada malam hari.

Padahal tunas kapas sempat tumbuh sekitar 8 hari (atau sekitar 212,83 jam) sejak hari pertama misi Chang'e 4 mendarat di sisi terjauh Bulan.

Liu Hanlong, Kepala Eksperimen di Universitas Chongqing lewat konferensi pers bersama pemerintah menyebut suhu di dalam kaleng meningkat hingga membuat tunas kapas mati.


"Kaleng berkapasitas 1 liter mencapai minus 52 derajat Celcius dan membuat penelitian ini telah berakhir," jelas Hanglong seperti dilaporkan GBTimes, Kamis (16/1).

Awalnya bibit kapas berhasil melalui suhu ekstrem hingga mengeluarkan tunas. Tabung tempat bibit ini tumbuh tidak memiliki sistem pemanas dari baterai sehingga pada pekan lalu tak mampu menghalau suhu dingin esktrem di Bulan pada malam hari.

Tanaman akan membusuk akhir bulan ketika permukaan kawah Von Karman saat memasuki siang hari. Tabung tempat menaruh biji disebut sebagai sistem tertutup yang membuat bibit busuk, meski tidak akan bocor ke permukaan Bulan.

Percobaan untuk bercocok tanam di Bulan merupakan eksperimen biologi pertama misi Chang'e 4. Selain membawa bibit kapas, misi serupa juga membawa bibit kentang, biji tanaman minyak (rapseed), ragi, dan telur lalat.

Namun peneliti belum mengungkap nasib sampel tanaman lainnya.

Eksperimen ini dilakukan di kawah Von Karman untuk menilai bagiaman tumbuhan dan hewan bisa tumbuh dan berkembang di lingkungan Bulan. Permukaan bulan merupakan wilayah dengan gravitasi rendah, tingkat radiasi tinggi, dan perubahan suhu sangat drastis lantaran tidak memiliki atmosfer.

Misi bercocok tanam di luar angkasa sebenarnya bukan tujuan utama Chang'e 4. Meski tak dipungkiri jika eksperimen biologi ini dilakukan untuk misi penjelajahan Bulan berikutnya.

Percobaan tanaman ini adalah bagian dari kontes yang diadakan agensi luar angkasa China pada 2015. Saat itu, mereka mengadakan kompetisi bagi murid sekolah di negaranya untuk memasukkan ide muatan apa yang harus dibawa bersama Chang'e 4. Minibiosfer ini memenangkan kompetisi dari 250 proposal yang masuk, seperti dikutip kantor berita China, Xinhua.

Misi Chang'e 4 yang sebenarnya adalah mengumpulkan data permukaan dan kondisi tanah dekat permukaan Bulan di kawah Von Karman. Data yang terkumpul akan dikirim ke Bumi menggunakan satelit Queqiao yang diluncurkan ke orbit stabil di balik Bulan pada Mei 2018.

Bibit kapas sebenarnya bukan tanaman pertama yang sempat mengeluarkan tunas saat dibawah ke luar angkasa. Sebelumnya astronaut sempat membuat beragam taman mini di orbit bulan mulai dari stasiun luar angkasa internasional (ISS) hingga laboratorium luar angkasa China Tiangong-2.

Chang'e 4 merupakan proyek ambisius China untuk eksplorasi robotik di Bulan. Sebelumnya, China telah meluncurkan pengorbit Chang'e 1 dan Chang'e 2  pada 2007 dan 2010. Mereka juga mendaratkan penjelajah sepasang di sisi dekat Bulan pada Desember 2013. Jika semua berjalan sesuai rencana, China akan meluncurkan Chang'e 5 misi untuk membawa sampel Bulan ke Bumi tahun ini.

Bulan membutuhkan 27 hari Bumi untuk melakukan satu kali rotasi. Sehingga siang dan malam di Bulan berganti setidaknya dua minggu sekali. Rotasi Bulan ini sama dengan waktu yang dibutuhkan Bulan untuk mengelilingi Bumi. Hal ini yang jadi penyebab penduduk Bumi selalu menghadap permukaan Bulan yang sama dan sisi lain Bulan disebut titik terjauh. (eks/evn)


BACA JUGA