Menurut Said politik produksi Esemka lebih parah ketimbang Timor yang lahir di era Presiden Soeharto. Timor mendapat izin masuk Indonesia pada 1996 demi pengembangan mobil nasional (mobnas) di bawah PT Timor Putra Nasional.
"Dulu Timor politik kan. Esemka lebih politik lagi," kata Said di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu (23/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah kalau menyatakan Apakah Indonesia produsen mobil, iya, tapi apakah Indonesia punya mobil produksi sendiri, tidak, beda loh ya. Kita produksi mobil tapi tidak memiliki mobil yang hasil karya bangsanya," ucap Said.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Esemka pun kini dikabarkan di bawah kendali Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH) dipimpin oleh Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (2001-2004).
Perusahaan itu dibentuk pada 2015 dan merupakan hasil kongsi antara perusahaan Hendropriyono, Adiperkasa Citra Lestari (ACL), dengan pemegang lisensi mobil Esemka, Solo Manufaktur Kreasi (SMK).
Peran Hendropriyono memegang Esemka diketahui sejak 2015 lalu atau satu tahun sejak Jokowi masuk ke Istana.
Namun, pada saat itu citra Esemka kian tenggelam seiring karir Jokowi yang menanjak dari Wali Kota Solo pada 2005-2012, Gubernur DKI Jakarta 2012-2014, hingga Presiden ke-7 Indonesia sejak 2014. (ryh/mik)