Pemerintah Dorong Kendaraan Alternatif Ramah Lingkungan

tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 09:05 WIB
Pemerintah Dorong Kendaraan Alternatif Ramah Lingkungan Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Elektronika Kementerian Perindustrian (ILMATE) Harjanto mengakui pengembangan kendaraan ramah lingkungan hybrid dan listrik di Indonesia memiliki banyak rintangan. Pemerintah butuh dukungan dari banyak pihak guna mempercepatan kendaraan murni listrik.

Menurut Harjanto, dari banyak rintangan yang dihadapi di antaranya adalah ketergantungan bahan baku impor untuk baterai, dan infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPLU). Selain itu, sistem pengisian yang masih memakan waktu dan harga kendaraan BEV (Battery Electric Vehicle) yang relatif mahal.

Melihat kondisi itu Harjanto mengatakan Indonesia masih butuh kendaraan konvensional atau motor pembakaran dalam (Internal Combustion Engine/ICE) namun sifatnya energi alternatif. Itu untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak fosil.


"Tapi kita sebenarnya punya local equipment lain yang biasa kita sebut palm oil atau sumber lain yang terbarukan. Ini yang bisa kami kembangkan selain kendaraan listrik," kata Harjanto dalam acara seminar otomotif mobil listrik Indonesia-Jepang di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (29/1).

Soal kendaraan yang memanfaatkan energi terbarukan, ia menilai Indonesia juga bisa sekaligus mengurangi impor bahan bakar. Dijelaskan Harjanto, keuntungan lain dari penggunaan energi terbarukan untuk kendaraan bisa menekan polusi udara di Indonesia.

"Kami tidak membatasi diri dengan satu teknologi saja tetapi memang kami akan perluas. selain kendaraan listrik, kami juga ingin mendorong pengembangan teknologi lainnya yang memanfaatkan biofuel," ucap Harjanto.

Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah sebagai bahan bakar kendaraan, seperti CPO dan etanol. Sumber energi ini disebut tersedia untuk jangkau waktu lama. Tanaman kelapa sawit misalnya, Indonesia memiliki ketersediaan ratusan ribu hektare lahan untuk peremajaan kelapa sawit. (ryh/mik)