Selain itu, tidak semua restoran menyediakan layanan pengantaran makanan. Oleh karena itu, konsumen bisa memesan makanan dari restoran mana pun dengan adanya layanan pengantaran yang disediakan oleh Gojek dan Grab.
"Fenomena masyarakat Indonesia terbiasa dilayani. Saya sebut Indonesia 'lazy economy'. Kalau yang kami lihat, tidak semua restoran Indonesia punya layanan pesan antar, ini yang membuat (transaksi) Gofood dan Grabfood cukup tinggi," tutur Jefrey ketika memaparkan hasil survey, di kawasan Sarinah, Jakarta Selatan, Rabu (30/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Food court di Malaysia atau Singapura saja kita harus bersihkan sendiri makanan. Kalau di Indonesia jarang. Lalu kalau makan di fast food dan telat itu diantarkan, kalau di negara lain itu kita yang tetap ambil," kata Jeffrey.
Oleh karena itu, Gofood dan Grabfood membuat pelaku UKM bisa menyediakan layanan pengantaran makanan. Sehingga, restoran kelas UKM bisa bersaing dengan restoran kelas atas.
Berdasarkan hasil survei Spire dari 175 responden, 47 persen memilih memesan Grabfood dan Gofood karena tidak memiliki waktu yang cukup untuk memasak makanan.
45 persen di antaranya memesan makanan melalui aplikasi ride-hailing karena tidak bisa keluar rumah karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sementara itu 30 persen memesan Grabfood dan Gofood karena tidak memiliki waktu untuk membeli makanan sendiri. (jnp/eks)