Test Drive

'Menggoyang' Xpander dari Jakarta Sampai Geopark Ciletuh

tim, CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 17:55 WIB
'Menggoyang' Xpander dari Jakarta Sampai Geopark Ciletuh Mitsubishi Xpander tipe Ultimate diajak ke Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Geopark Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat menjadi salah satu destinasi wisata menarik untuk dikunjungi. Lokasinya yang tak begitu jauh dari Jakarta menjadi tempat terbaik bagi pelancong untuk mengubur waktu di akhir pekan.

Pilihan berkunjung ke Geopark Ciletuh karena lokasi ini tergolong jarang dikunjungi wisatawan domestik atau mancanegara. Biasanya mereka ke tempat wisata Cimaja, Gunung Halimun Salak, Pelabuhan Ratu, dan Ujung Genteng.

Waktu sudah ditentukan, saya pun bertolak dari Jakarta menuju Geopark Ciletuh pada Sabtu malam sekitar pukul 18.30 WIB. Saya tidak sendiri, perjalanan ditemani dua orang rekan yang juga ingin menghabiskan waktu libur singkatnya.


Berkunjung ke Ciletuh kita bisa memanfaatkan transportasi umum seperti bus dan kereta. Namun kami memilih menggunakan mobil pribadi Mitsubishi Xpander varian Ultimate supaya waktunya lebih fleksibel. Varian tertinggi dari pesaing Toyota Avanza ini yang kami gunakan selama menjelajah di tanah Sukabumi.

Dari pantauan melalui peta di aplikasi, lokasi yang ingin kami tuju berjarak sekitar 75 km dari titik kumpul di wilayah Tendean, Jakarta Selatan.
Mitsubishi Xpander tipe Ultimate.Mitsubishi Xpander tipe Ultimate. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Dari estimasi waktu pada aplikasi peta, disebutkan dengan kondisi lalu lintas lancar saat itu kami akan tiba dalam waktu sekitar tiga jam.

Itu tidak masalah, apalagi saya belum mendapat jatah mengemudi, melainkan duduk manis sebagai penumpang di baris kedua. Dari Tendean, saya menuju jalan tol lingkar luar Jakarta. Perjalanan di tol beruntung lancang 'jaya'. Xpander yang saya tumpangi 'ngacir' dengan kecepatan rata-rata 120 kilometer (km) per jam.

Kondisi kabin penumpang Xpander masih senyap saat mobil digebar di atas 100 km per jam. Artinya sistem peredam mobil mampu menghalau suara kendaraan dari luar saat kecepatan tinggi. Hanya sedikit suara raungan mesin masuk ke kabin.

Salah satu dari kami juga sempat mengukur seberapa kedap mobil ini saat diajak melaju 100 km per jam dengan putaran mesin 2.500 rpm melalui aplikasi telepon genggam. Hasilnya suara dalam kabin sekitar 81-83 desibel.
Mitsubishi Xpander sampai di lokasi Curug Sodong, Sukabumi.Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP
Mitsubishi Xpander sampai di lokasi Curug Sodong, Sukabumi.
Tidak terasa aplikasi peta online mengarahkan kami keluar tol di daerah Ciawi, dan kembali masuk ke dalam tol menuju Sukabumi yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo pada Desember 2018.

Tol ini mampu memangkas perjalanan wisatawan dari Jakarta menuju Sukabumi. Benar saja tidak sampai 30 menit, kami sudah tiba di pintu keluar tol Cigombong 1. Melalui tol ini kami tidak perlu dihantui kemacetan sepanjang jalur normal ke arah Sukabumi.

Yang patut disimak adalah agar pengendara berhati-hati melintasi lokasi itu pada malam hari. Sebab ruas tol baru tersebut minim sekali penerangan.

Perjalanan pun kami lanjutkan menuju daerah Cibadak. Tapi sebelumnya kami memilih beristirahat sejenak sembari mengisi penuh tangki dengan bensin.

Setelah tangki terisis penuh kami pun kembali melanjutkan perjalanan jalur umum. Di jalur ini banyak sekali pabrik-pabrik berdiri di sepanjang jalan. Mobil kami menemukan beberapa hambatan mulai jalan naik turun, jalan berkelok, dan truk-truk berukuran besar yang menghambat perjalanan kami.
Xpander melintasi lokasi Cikidang, Sukabumi.Xpander melintasi lokasi Cikidang, Sukabumi. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Melintasi Cikidang

Aplikasi peta juga mengarahkan kami melalui jalur Cikidang, sesuai keinginan kami untuk memangkas waktu perjalanan.

Daerah ini sendiri banyak yang sering menyebutnya sebagai jalur 'neraka'. Mengingat ruas jalan tidak terlalu besar atau cukup dua mobil berlawanan, kontur jalan naik turun, dan tikungan tajam yang kadang hilang dari pantauan kedua mata.

Benar saja, baru masuk daerah tersebut kami langsung dihadapkan dengan tanjakan serta tikungan-tikungan 'maut'. Kesigapan sopir mengolah kemudi jelas dibuktikan di sini.

Sebagai penumpang, efek limbung duduk di baris kedua Xpander terasa minim. Perpaduan sasis monokok dan kaki-kaki mobil berkelir merah ini nampaknya berhasil meredam efek 'terombang-ambing'.

Mesin DOHC 4A91 MIVEC 1.499 cc yang berpadu dengan transmisi otomatis empat percepatan Xpander juga membuat pengemudi tidak kehilangan percaya diri ketika dihadapkan jalan menanjak.

"Mesin bertenaga 103,2 tenaga kuda pada 6.000 rpm dan torsi 141 Nm pada 4.000 RPM mumpuni melibas tanjakan. Asoi," ucap pengemudi.

Untuk diingat, Anda harus berhati-hati ketika melintasi lokasi ini pada waktu malam hari. Jalan licin ketika turun hujan, sepi dan tikungan tajam akan menghiasi selama perjalanan sampai ke Pelabuhan Ratu. Belum lagi minim cahaya. Kami pun hanya mengandalkan kedua lampu depan Xpander yang memberi pencahayaan cukup baik selama perjalanan.

Tidak terasa kami sudah sampai di titik akhir perjalanan jika berpatokan pada aplikasi peta. Namun, Geopark Ciletuh ternyata masih berjarak sekitar 30 km lagi dari titik finish.

Peta hanya membawa kami ke daerah Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Kami pun memutuskan untuk bermalam di kota Pelabuhan Ratu dengan mencari penginapan terdekat setelah berkendara sekitar 3-4 jam.
Xpander menuju lokasi Curug Sodong, Sukabumi.Xpander melintasi persawahan milik warga untuk sampai lokasi Curug Sodong, Sukabumi. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Esok Pagi

Sekitar pukul 08.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Sisa sekitar 30 km berdasarkan keterangan aplikasi peta dan diperkuat panduan dari penduduk sekitar kami pun tancap gas.

"Kalau ke Geopark dari sini sekitar satu jam setengah. Ketemu pelabuhan belok kanan dan ketemu jembatan kuning. Dari situ tinggal ikutin jalan aja," kata warga setempat memberi arahan kepada kami.

Sinar mentari menemani perjalanan kami pagi itu menuju Geopark Ciletuh. Saya masih duduk di kursi bari kedua. Xpander menggunakan blower ac di bagian tengah. Kondisi tersimpan apik dan tidak terlalu menonjol dan mengganggu estetika kabin penumpang. Dan pendingan ruangan di tengah mampu membuat perjalanan saya semakin nyaman.

Dalam perjalanan menyempatkan diri memutar musik kegemaran untuk menambah semangat sebelum sampai lokasi tujuan. Xpander yang saya gunakan ini ditopang head unit layar sentuh. Head unitnya bisa terkoneksi dengan telepon genggam melalui bluetooth atau Aux-In. Terdapat enam titik speaker tersebar di dalam kabin penumpang.
Xpander menggunakan suspensi depan Macpherson strut dengan coil spring dan belakang Torsion beam.Mitsubishi Xpander di Curuh Sodong. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Menuju lokasi wisata Geopark, mobil dihadang tanjakan terjal dan turunan curam serta jalan berkelok yang membutuhkan konsentrasi dari pengemudi.

Beberapa titik jalan juga terpantau rusak. Di sini kami merasa suspensi depan Macpherson strut dengan coil spring dan belakang Torsion beam Xpander berupaya 'menenangkan' kami.

Pemandangan silih berganti. Perjalanan pun diisi dengan banyak jalan menanjak. Bisa diibaratkan seperti kami sedang membelah bukit. Namun kombinasi pemandangan laut dari atas perbukitan menjelang garis finish mampu memanjakan mata kami.

Lebih kurang 150 menit dari perjalanan awal kami akhirnya sampai di Geopark Ciletuh.

Tempat Wisata Murah Meriah

Masuk ke lokasi Geopark cuma Rp10 ribu per mobil, sekaligus penumpang. Di sana kita dapat melihat pantai yang airnya berwarna cokelat karena pertemuan pertama dengan air terjun yang membelah bukit. Di lokasi tersebut berjejer rumah makan dan tempat penyewaan kendaraan ATV.

Selain pantainya yang unik, wilayah Geopark juga menyediakan wisata alam lain seperti Curug Cimarinjung, Curug Sodong, hingga Pantai Palangpang yang jaraknya berdekatan. Kata warga setempat masih satu 'kompleks'. Untuk bisa masuk ke masing-masing wisata air terjun, wisatawan cuma membayar sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu.

Setiap air terjun memiliki ciri khas tersendiri. Seperti Curug Sodong. Posisi jatuhnya air sangat dekat dengan lokasi parkir. Mobil yang kami gunakan bahkan bisa diletakkan di depan air terjun dan momen itu bisa dimanfaatkan untuk berswafoto dengan mobil idaman.
Mitsubishi Xpander meramaikan pasar roda empat segmen low MPV.Mitsubishi Xpander meramaikan pasar roda empat segmen low MPV. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Sementara air terjun Cimarinjung, kita harus berjalan kaki untuk sampai ke titik air terjun. Sesuai namanya, curug ini adalah aliran sungai Cimarinjung yang ada pada ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut.

Jika ditotal, perjelajahan kami di kawasan Geopark Ciletuh menghabiskan waktu sekitar tujuh jam. Itu sudah termasuk leye-leye di beberapa warung makan dan berhenti untuk mengabadikan momen lewat kamera.

Sedangkan untuk biaya transportasi, Xpander menelan biaya Rp206 ribu untuk bahan bakar RON 92, dan biaya tol yang tak sampai Rp100 ribu dari Jakarta-Pelabuhan Ratu-Jakarta.

(ryh/mik)


BACA JUGA