Laporan dari Barcelona

XL Axiata Gandeng Huawei Perbarui Jaringan Fixed Mobile

CNN Indonesia | Senin, 04/03/2019 04:41 WIB
XL Axiata Gandeng Huawei Perbarui Jaringan Fixed Mobile CTO XL Axiata, Yessie D Yosetya, (CNN Indonesia/Ervina Anggraini)
Jakarta, CNN Indonesia -- XL Axiata akan memperbarui (rekonstruksi) jaringan telekomunikasi mereka dengan fiberisasi kabel optik Huawei. Pembaharuan jaringan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan telekomunikasi untuk bisnis Fixed Mobile XL, seperti diungkap CTO XL Axiata Yessy Yosetya.

"Solusi Huawei mendukung pembangunan jaringan bearer yang simpel dengan bandwith tinggi, namun memiliki tingkat latensi yang minimal. Hal tersebut selaras dengan tujuan yang hendak kami capai dalam mewujudkan simplifikasi jaringan," ujarnya dalam MWC 2019, di Barcelona, Rabu (27/2).

Jaringan bearer biasanya digunakan untuk mengurangi latensi sehingga mempercepat respon jaringan. Sehingga, Yessy berharap solusi Optical Networking 2.0 Huawei bisa menyederhanakan arsitektur jaringan mereka menuju era 5G.


Di era 5G, operator mendapat tuntutan untuk menyediakan koneksi pita lebar yang 10 kali lebih luas, dengan latensi 10kali lebih kecil, dan mesti menghubungkan perangkat 100 kali lebih banyak. Semua ini menyebabkan operator mesti menghadapi jaringan yang 10 kali lebih rumit.

Jaringan ini yang lebih cepat dan responsif ini diharapkan bisa mendukung tren Cloud VR hingga live broadcast dengan resolusi 4K. Sebelumnya, di hari yang sama Telkom juga mengumumkan kerjasama dengan Huawei di ajang MWC, Senin (25/2). 

"(Huawei) ke depannya dapat menghadirkan berbagai inovasi serta membangun jaringan yang berfokus terhadap peningkatan pengalaman pengguna dalam rangka menyambut berbagai kesempatan strategis di era 5G," jelas President of Huawei Transmission & Access Product Line Richard Jin dalam kesempatan yang sama.

Solusi Huawei Optical Networking 2.0 menggunakan OXC (all-optical cross-connect). OXC adalah peranti industri yang mampu mendukung dibangunnya jaringan mesh backbone secara 3D.

Selain itu digunakan juga untuk koneksi one-hop antar titik sehingga memungkinkan diterapkannya provisi layanan end-to-end dengan lebih cepat.

Huawei saat ini tengah menghadapi banyak tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya terkait dengan layanan jaringan nirkabel 5G mereka.

Pemerintah AS, Australia, Jepang, dan operator dari sejumlah negara di Uni Eropa, telah menyatakan untuk tidak menggunakan jaringan 5G Huawei. Alasannya, mereka khawatir jaringan telekomunikasi mereka akan dimata-matai oleh Huawei yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah China. 

Menanggapi hal ini, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara sempat menyebut kalau Indonesia tidak bisa paranoid dengan isu pemboikotan Huawei ini. Alasannya, operator telekomunikasi di Indonesia masih bergantung pada perangkat asing.

"Indonesia punya 300 BTS yang menggunakan teknologi asing. Huawei sangat signifikan disini, jadi kita tidak bisa paranoid," jelasnya seperti dikutip Reuters, Rabu (27/2). (age/eks)