"Solusi Huawei mendukung pembangunan jaringan bearer yang simpel dengan bandwith tinggi, namun memiliki tingkat latensi yang minimal. Hal tersebut selaras dengan tujuan yang hendak kami capai dalam mewujudkan simplifikasi jaringan," ujarnya dalam MWC 2019, di Barcelona, Rabu (27/2).
Jaringan bearer biasanya digunakan untuk mengurangi latensi sehingga mempercepat respon jaringan. Sehingga, Yessy berharap solusi Optical Networking 2.0 Huawei bisa menyederhanakan arsitektur jaringan mereka menuju era 5G.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jaringan ini yang lebih cepat dan responsif ini diharapkan bisa mendukung tren Cloud VR hingga live broadcast dengan resolusi 4K. Sebelumnya, di hari yang sama Telkom juga mengumumkan kerjasama dengan Huawei di ajang MWC, Senin (25/2).
Selain itu digunakan juga untuk koneksi one-hop antar titik sehingga memungkinkan diterapkannya provisi layanan end-to-end dengan lebih cepat.
Huawei saat ini tengah menghadapi banyak tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya terkait dengan layanan jaringan nirkabel 5G mereka.
Menanggapi hal ini, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara sempat menyebut kalau Indonesia tidak bisa paranoid dengan isu pemboikotan Huawei ini. Alasannya, operator telekomunikasi di Indonesia masih bergantung pada perangkat asing.
"Indonesia punya 300 BTS yang menggunakan teknologi asing. Huawei sangat signifikan disini, jadi kita tidak bisa paranoid," jelasnya seperti dikutip Reuters, Rabu (27/2). (age/eks)