Rolls-Royce Ogah Sentuh Teknologi Hybrid

Febri Ardani, CNN Indonesia | Senin, 04/03/2019 08:42 WIB
Rolls-Royce Ogah Sentuh Teknologi Hybrid Limusin Aurus Senat Milik Vladimir Putin. (Foto: AFP PHOTO / Alexander NEMENOV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Produsen mobil super mewah Rolls-Royce tidak tertarik pada teknologi hybrid walau sang induk, BMW, sudah melakukan banyak menemukan inovasi ramah lingkungan.

CEO Rolls-Royce Torsten Müller-Ötvös bilang tidak percaya sistem hybrid ataupun plug in hybrid solusi buat mobil-mobil Rolls-Royce yang dikenal berkapasitas mesin besar haus bahan bakar. Mesin besar dibutuhkan buat mengimbangi segala perlengkapan kelas berat untuk penumpang tajir di kabin.

"Kami tidak akan ke hybrid, kami akan langsung ke elektrik. Dan kami melakukannya tahap demi tahap," kata Müller-Ötvös kepada whichcar.


Teknologi listrik bakal jadi pilihan pamungkas sebab dirasa benefitnya lebih terasa. Mobil-mobil Rolls-Royce butuh torsi besar yang bisa ditemukan berlimpah pada motor listrik.

"Power bukan isu buat mobil listrik. Bukan isu sama sekali. Itu bahkan lebih mudah dibanding mesin pembakaran dalam sebab torsi substansial. Dan Roll-Royce semuanya tentang torsi," ujarnya.

Sebelum pada akhirnya pindah ke elektrik, Müller-Ötvös menjelaskan bakal mempertahankan pilihan mesin V12 turbo ganda pada Rolls-Royce selama mungkin. Mesin itu merupakan satu-satunya pilihan yang digunakan pada Phantom, Ghost, Wraith, Cullinan, dan Dawn.

Bahkan, Müller-Ötvös juga menyebut tidak tertarik mengaplikasikan mesin V8 ataupun 6-silinder segaris yang dimiliki BMW.

"Biar saja jelaskan begini, selama mesin itu sesuai aturan, konsumen kami menyukai 12 silinder. Itu seperti jam tangan yang rumit. Semakin rumit maka semakin berharga," katanya.

Müller-Ötvös tidak bisa memastikan kapan Rolls-Royce bakal masuk ke teknologi listrik. Namun dia menggambarkan bakal memulai kira-kira setelah mobil pembakaran dalam mulai diusir sepenuhnya dari kota-kota besar di pasar penting, yakni China.

"China sangat baik mempromosikan mobil listrik buat industri mereka sendiri, dan itulah masa depan. Dan bila Anda ingin berpartisipasi di pasar China, semua orang harus melakukannya," kata Müller-Ötvös. (fea)