Belajar dari Kecelakaan Bupati Demak, Sopir Butuh Soft Skill

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Senin, 04/03/2019 14:56 WIB
Belajar dari Kecelakaan Bupati Demak, Sopir Butuh Soft Skill Kecelakaan di Jalan Tol Batang-Semarang. (Foto: Dok. Jasa Marga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecelakaan yang melibatkan rombongan Bupati Demak M Natsir pada Minggu (3/3) dini hari di Tol Batang KM 349 cukup menghebohkan. Selain Toyota Innova yang ditumpangi Natsir hancur berantakan, insiden ini juga merenggut satu nyawa.

Pengamat keselamatan berkendara, Direktur Safety Defensive Consultant Indonesia Sony Susmana, turut mengomentari perihal insiden tersebut. Menurut dia, berdasarkan kronologi yang diungkap kepolisian, 75 persen kecelakaan memungkinkan disebabkan kelalaian pengemudi Innova.

Sebab, dijelaskan Sonny, dari informasi kepolisian menyebut bahwa Innova yang menabrak. Diasumsikan truk yang ditabrak berada pada posisi seharusnya, yaitu di kiri, sesuai sisi kerusakan terparah yang dialami Innova.


"Tapi kalau ditabrak kemungkinan 75 persen ada kesalahan pada yang nabrak," kata Sony saat dihubungi, Senin (4/3).

Sonny mengatakan kecelakaan Bupati Demak ini mengingatkan buat siapapun yang berperan sebagai pengemudi, bukan cuma harus memahami 'hard skill' berkendara, melainkan juga 'soft skill' buat menghindari hal yang tak diinginkan selama dalam berkendara.

"Satu hal bahwa seorang pengemudi harus paham, mengemudi adalah pekerjaan berat. Ini tidak paham semua, mereka hanya berpikir memutar setir, menginjak gas, rem dan kopling. Kalau dari kejadian kemarin berarti soft skill tidak mencukupi," ujar Sony.

Soft skill menurut Sony merupakan sikap alamiah atau insting yang harus dimiliki setiap pengemudi. Soft skill bisa diartikan membuat pengemudi mampu membaca potensi bahaya, mengukur jarak, menjaga kecepatan, mengatur jadwal istirahat selama perjalanan, dan lainnya.

"Sekalipun kecepatan sesuai dengan aturan yang diperuntukkan, kalau juga kecelakaan berarti ada pemaksaan terhadap kemampuan pengemudi. Dalam hal ini kurang istirahat karena harus menyetir pejabat sehingga nervous, dikejar waktu, dan sebagainya," katanya.

Ia mengatakan mempertajam ilmu soft skill pun sebetulnya tidak terlalu mudah, namun juga tidak terlalu susah.

"Gampang-gampang susah. Soalnya soft skill ilmu prilaku. Pertama paham kemampuan kita dan kendaraan. Artinya kalau bahasa tubuh sudah capek dan segala macam, harus istirahat. VIP harus mengerti juga, tidak bisa dipaksakan," kata Sony.

Lalu, disampaikan Sony, pengemudi juga harus peka soal kemampuannya mengolah kemudi dalam kecepatan tinggi. Pahami sejauh mana mana batas kecepatan mobil yang bisa dikontrol.

"Entah apapun alasannya, pengemudi adalah orang yang menguasai kendaraan. Jadi dia tau dengan akal sehat kecepatan berapa bisa kontrol. Lebih dari itu tidak bisa kontrol harus jujur kepada VIP. Entah diganti dengan orang berkompeten, entah kecepatan dikurangi atau sebagainya," kata Sony.

Selain itu ia menuturkan pengemudi harus pintar mengontrol emosi saat berkendara.

"Ini paling susah ketika buru-buru, dalam kondisi tidak terukur. Baik kendaraan, lingkungan, maupun bodinya, bisa tidak kontrol itu. Tiga hal ini yang menjadi dasar menyelamatkan penumpang dan kondisi lingkungan," kata Sony.

Terlepas dari itu semua, Sony menambahkan sudah sepatutnya para pemangku kepentingan lebih ketat memproses kendaraan. Pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan dikatakan harus mengandangkan semua kendaraan tidak laik jalan. Hal ini diketahui berkaitan dengan truk yang ditabrak diduga tidak dilengkapi lampu belakang. (ryh/fea)