Pembaruan peranti lunak seharusnya dilakukan setelah peristiwa jatuhnya Lion Air JT610 di Karawang pada Oktober 2019. Kejadian di Ethiopia dan Indonesia sama-sama menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8.
Pembaruan akan mengubah banyak sensor (data feeds) untuk mengganti sistem pengaturan tunggal setelah kejadian Lion Air yang menewaskan 189 penumpang dan awak. Sistem pengaturan tunggal diterapkan dalam sistem anti-stall.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di satu titik, perusahaan mengeluh ketika disarankan untuk menggunakan beberapa sensor yang menjalankan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Perusahaan meyakini penggunaan beberapa sensor akan lebih rumit dalam menjalankan MCAS.
Boeing tidak mengomentari penundaan diskusi dengan FAA. Akan tetapi, perusahaan mengonfirmasi jika pembaruan peranti lunak akan dilakukan pada April nanti.
Sementara pejabat AS juga menyarahkan penutupan pemerintahan pada Januari lalu yang berimbas pada penundaan pembaruan peranti lunak setidaknya hingga lima pekan.
Lihat juga:Boeing Akan Perbarui Software 737 Max 8 |
"Dalam proses peninjauan mendesak kami terhadap data pada kecelakaan Penerbangan 302 Ethiopian Airlines, jika ada masalah yang mempengaruhi kelaikan udara berkelanjutan dari pesawat diidentifikasi, FAA akan mengambil tindakan segera dan sesuai," kata FAA dalam keterangannya.
Berdasarkan pernyataan resmi Boeing, perusahaan terus mengembangkan software untuk keamanan pesawat. Termasuk pembaruan dalam panduan MCAS, pilot displays, pengoperasian manual dan pelatihan kru.
"Selama beberapa bulan terakhir... Boeing telah mengembangkan peningkatan software kontrol penerbangan untuk 737 MAX, yang dirancang untuk membuat pesawat yang sudah aman menjadi lebih aman," kata pernyataan resmi Boeing. (jnp/evn)