Executive General Manager Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan kolaborasi antara Mitsubishi dan Nissan yang menghasilkan Xpander dan Livina bakal 'membingungkan'.
"Tapi saya bilang mereka akan mengalami dilema pada saat melakukan kolaborasi antara Mitsubishi dan Nissan," kata Soerjopranoto saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (13/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Toyota Sindir Performa Penjualan Xpander |
Berbeda dengan Toyota-Daihatsu, Soerjo melanjutkan bahwa sejak awal Toyota dan Daihatsu telah membuat strategi yang jelas [sebelum Avanza muncul perdana pada 2003], baik dalam hal pemasaran atau bicara urusan dapur produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditemui di tempat terpisah, Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Naoya Nakamura mencoba menjelaskan strategi Mitsubishi dan Nissan di Indonesia, mulai dari perakitan, hingga berbagi platform kendaraan.
Seperti diketahui, Nissan Livina generasi kedua, yaitu redbage Mitsubishi Xpander di kelas low MPV.
Nakamura membantah akan terjadi 'kisruh' antara kedua perusahaan aliansi tersebut, namun sebaliknya Mitsubishi dan Nissan akan bersinergi dengan baik di global termasuk pasar otomotif Indonesia.
Saat ini kapasitas produksi pabrik PT MMKSI di Cikarang mencapai 150 ribu sampai 160 ribu unit. Kapasitasnya akan bertambah menjadi 220.000 unit pada tahun fiskal 2020.
"Kalau untuk komposisi yang pertama pasti Xpander harus lebih dari 50 persen dari 150 ribu unit. Juga ini termasuk rencana MMKSI ekspor Xpander," ucap Nakamura.
Nakamura berharap Livina akan sukses di Indonesia. Peningkatan penjualan Livina praktis akan menguntungkan pihak Mitsubishi atas biaya produksi Livina baru yang harus dibayar pihak Nissan.
"Yang pasti karena Nissan menumpang produksi di kami, kami berharap semoga sukses selalu untuk Nissan Livina," tutup Nakamura.
(ryh/mik)