Pendiri WhatsApp Kembali Ajak Hapus Facebook

CNN Indonesia | Rabu, 20/03/2019 09:15 WIB
Pendiri WhatsApp Kembali Ajak Hapus Facebook Pendiri WhatsApp Brian Acton. (Foto: REUTERS/Mike Blake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri WhatsApp Brian Acton kembal menyerukan untuk hapus akun Facebook saat menjadi pembicara di almamaternya, Stanford University. Di kesempatan yang sama, Acton juga membeberkan alasan di balik keputusannya menjual WhatsApp dan kritik terhadap cara Facebook menjalankan bisnis.

Acton mengkritik model bisnis raksasa teknologi seperti Facebook dan Google yang menuntut wirausaha untuk mengejar permodalan dan keuntungan untuk memuaskan karyawan dan pemegang saham.

"Saat kembali ke Silicon Valley dan orang-orang bertanya, "bisakah kamu tidak menjual (perusahaan)?' Jawabannya tentu tidak," ucap Acton disela acara diskusi Computer Sains 181 di Stanford University.


"Saya punya 50 karyawan yang harus dipikirkan nasibnya dan uang yang diperoleh dari hasil penjualan ini. Saya harus memikirkan investor dan saham minoritas saya. Saya bahkan tidak memiliki pengaruh penuh untuk berkata tidak."

Pada penampilan di muka publik keduanya, Acton tak sungkan mengungkap alasan ia mundur, lantaran selisih paham dengan CEO Facebook Mark Zuckerberg.

"Saya telah menjual privasi pengguna untuk keuntungan yang lebih besar. Saya membuat keputusan, dan berkompromi dengannya. Saya hidup dengan menerima hal tersebut tiap hari," ucap Acton kepada Forbes, September lalu.

Sejak awal kesepakatan bisnis, ia menjelaskan jika Facebook menargetkan agar WhatsApp bisa mencetak pendapatan US$10 miliar atau sekitar Rp140 triliun dalam lima tahun. Untuk mencapai target tersebut, WhatsApp diminta memunculkan iklan dan membuat versi khusus pebisnis.

Namun ia mengkritik model bisnis yang justru mengarahkan perusahaan untuk memprioritaskan profit ketimbang privasi penggunanya.

"Motif profit kapitalistik adalah penyebab semakin berkembangnya invasi data pribadi dan semakin banyaknya pandangan negatif. Saya berharap ada pagar yang bisa membatasi dan dapat menghentikan hal tersebut. Hal itu belum terjadi, dan membuat saya takut," ucapnya.

Kendati tak sepakat dengan cara Zuck mendatangkan profit, Acton mengaku ia tak iri dengan sosok pendiri Facebook tersebut. Menurutnya, upaya Zuck untuk menjaga perilaku pengguna media sosial merupakan hal yang sia-sia. Enkripsi end-to-end pada layanan WhatsApp membuat mustahil bagi perusahaan memonitor aktivitas penggunanya.

Namun ia tak memungkiri jika platform yang tidak dimoderasi bisa menimbulkan efek negatif termasuk penyebaran disinformasi dan ajakan untuk melakukan kekerasan. Selain Facebook, Google dan Apple bahkan bahkan mengaku kesulitan menentukan mana ujaran kebencian dan mana yang bukan serta situs yang baik dan buruk.

"Bagian terburuknya, kita memberi kuasa atas hal tersebut. Kita menggunakan produk dan layanan mereka. Maka saya rasa inilah saatnya untuk menghapus Facebook," ucapnya seperti dilansir Buzzfeednews.

Upaya mempertahankan bisnis

Sebelum sepakat menjual WhatsApp, Acton dan rekannya Jan Koum sepakat untuk memungut biaya berlangganan sebesar US$1 per tahun untuk satu pengguna. Meski terkesan kecil, namun menurutnya model bisnis ini bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna untuk mendapatkan layanan yang mengedepankan keamanan dan privasi.

Cara ini menurutnya juga bisa menangkal pendapatan tradisional yakni berupa iklan seperti yang diterapkan Facebook.

"Model bisnis WhatsApp yakni dengan memberikan layanan selama setahun seharga US$1. Meski bukan cara untuk mencetak uang, namun jika Anda memiliki satu miliar pengguna makan ada US$1 miliar tiap tahun," imbuhnya.

Acton mengaku mengapresiasi peralihan fokus Facebook yang kini mengedepankan privasi pengguna. Menurutnya, keputusan tersebut lebih baik ketimbang menempatkan server mereka di China.

"Saya berpikir bahwa kebanyakan keputusan korporasi sekarang bersifat tiba-tiba dan sewenang-wenang." (lea/evn)