Sementara bagi bagian selatan Bumi, Equinox ini menjadi autumnal equinox (musim gugur). Sesuai namanya, fenomena ini menandakan peralihan musim bagi kedua wilayah Bumi. Equinox akan kembali terjadi sekitar tanggal 22 September, yang akan menjadi awal musim semi bagi wilayah selatan, dan musim gugur untuk wilayah utara.
Sebab, seringkali durasi siang malam di belahan Bumi utara dan selatan tak sama ketika Matahari sedang berada di salah satu sisi utara atau selatan Bumi. Ketika Matahari ada di sisi utara, durasi siang di wilayah belahan Bumi utara akan lebih panjang ketimbang malam, begitupun sebaliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain penanda pergantian musim, Rhorom menulis setidaknya ada 3 dampak Equinox terhadap Indonesia. Pertama, Matahari yang melintas di atas kepala akan lebih terik 9 persen dibanding ketika matahari berada pada soltice (ketika matahari berada di titik puncaknya utara atau selatan Bumi).
Equinox dirayakan dengan berbagai perayaan di seluruh belahan dunia. Salah satunya, adalah perayaan Paskah bagi umat Kristiani.
Dilansir dari CNN travel, perayaan paskah ditetapkan pada bulan purnama pertama setelah Equinox, dimana tahun ini jatuh pada 21 April. Persia memiliki tradisi Norwuz (tahun baru Persia) yang telah dilakukan ribuan tahun lalu.
Perayaan ini berkaitan dengan penanda waktu pergantian musim bagi negara-negara di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, Rhorom Priyatikanto, peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, menyebut merupakan penanda perubahan dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya.
"Saat musim panas di belahan utara, tekanan udara daerah ini cenderung lebih rendah dibanding tekanan di daerah selatan. Maka dari itu, bertiuplah angin tenggara (dari benua Australia yang kering) sehingga Indonesia akan mengalami musim kemarau dari April sampai Oktober," jelasnya. (lea/eks)