Melihat Cara Kerja Matahari 'Made in China'

CNN Indonesia | Rabu, 13/03/2019 12:27 WIB
Melihat Cara Kerja Matahari 'Made in China' Ilustrasi matahari. (Foto: Iggoy el Fitra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ambisi China untuk mencari sumber energi ramah lingkungan mendorong mereka untuk mengembangkan proyek matahari buatan. Proyek yang dinamakan 'Man-Made Sun' ini didasari pada cara kerja matahari dan bintang, yakni menggunakan fusi hidrogen yang menciptakan energi panas. Cara ini diklaim akan menciptakan energi yang lebih bersih dan lebih aman daripada reaktor nuklir biasa. 
 
Sejak proyek ini dimulai pada tahun 2018 lalu, matahari buatan tersebut telah mencapai suhu yang lebih panas dibanding matahari asli.

Tim peneliti dari Institut Fisika Hefei China, mengumumkan bahwa reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) yang diciptakan untuk meniru cara kerja alami matahari telah mencapai suhu 100 juta derajat Celsius.

Sebagai perbandingan, inti matahari alami kita hanya mencapai 27 juta derajat celcius. Berarti, suhu reaktor EAST enam kali lebih panas dari matahari asli. 
 
Reaktor EAST bekerja dengan menggabungkan dua inti hidrogen. Ketika unsur kimia itu bergabung akan tercipta energi panas yang luar biasa. Proses ini dikenal dengan fusi nuklir dan berbeda dengan reaktor nuklir biasa yang menerapkan fisi (pembelahan) inti atom.
 
Akan tetapi, ilmuwan percaya bahwa suhu yang sangat panas tersebut baru suhu minimal yang dibutuhkan jika mereka berniat untuk menciptakan reaktor nuklir mandiri. Dengan kata lain, masih ada tahapan berikutnya yang harus dilakukan tim ilmuwan untuk dapat mewujudkan sumber energi mutakhir yang mereka inginkan.


Mengutip Futurism, China menggunakan struktur penyangga magnet superkonduktor dengan berat 20 ton yang dirakit di Prancis untuk mewujudkan proyek ini. Tantangan terbesar reaktor EAST ini, adalah bertahan dari panas luar biasa dalam waktu lama untuk bisa menciptakan sumber energi secara praktikal.

"Jika ada gempa berkekuatan 10 skala Richter, struktur kami harus bisa menahan gelombang kejut tersebut," ucap kepala proyek pendukung ITER seperti mengutip CGTN.
 
Untuk dapat mewujudkan proyek ini, China bekerja sama dengan sejumlah negara antara lain Amerika Serikat, Uni-Eropa, Rusia, Jepang, India, dan Korsel. Rencananya, matahari 'made in China' ini akan mulai bersinar tahun ini dan bsa digunakan secara komersial pada 2050 mendatang. (lea/evn)