Peneliti menemukan bahwa bulan-bulan ini memiliki permukaan yang berpori. Mengindikasikan bahwa, bulan-bulan kecil tersebut terbentuk bertahap sejalan dengan memadatnya material cincin yang berkumpul pada inti objek.
Diperkirakan material pembentuk Bulan Saturnus ini sebelumnya merupakan sisa-sisa objek besar yang pernah hancur. Sehingga, hal ini yang menjelaskan mengapa bentuk bulan-bulan ini yang tidak bulat sempurna, melainkan berbentuk agak pipih dengan banyak material yang terjebak di sekitar garis khatulistiwa Saturnus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buratti adalah pemimpin penelitian dari 35 penulis yang mempublikasikan tulisan terkait temuan ini pada 28 Maret lalu.
Hal ini disebabkan karena bagian luar cincin Saturnus memiliki banyak partikel es. Sementara uap air berasal dari salah satu bulan Saturnus, Enceladus.
Cassini mengirimkan data-data ini menggunakan Pemeta Panjang Gelombang (Visible and Infrared Mapping Spectrometer) yang mengirimkan gambar cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia, serta cahaya inframerah.
Cassini yang berada pada posisinya yang paling dekat dengan Pan, dapat membuat peta spektral (peta warna) yang menjelaskan komponen pembentuk Bulan kecil tersebut, beserta 4 Bulan lainnya.
"Apa bulan-bulan di planet es lain seperti Uranus dan Neptunus berinteraksi dengan 'cincin' planet tersebut yang ukurannya lebih tipis untuk menciptakan bentuk yang serupa seperti bulan-bulan kecil di Cincin Saturnus?" tanya Buratti. "Ini adalah pertanyaan yang ingin dijawab untuk misi berikutnya," lanjutnya.
Misi Cassini selesai pada September 2017 karena tipisnya sisa bahan bakar. Untuk menghindari bangkai Cassini berbenturan dengan Bulan-Bulan Kecil tersebut, tim pengendali mengarahkan Cassani agar jatuh ke atmosfer Saturnus. (lea/eks)