NASA Temukan Lima Bulan Baru di Cincin Saturnus

CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 08:50 WIB
NASA Temukan Lima Bulan Baru di Cincin Saturnus Lima bulan baru yang ditemukan di Saturnus (dok. NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti menemukan 5 Bulan kecil baru di Saturnus. Bulan-bulan ini terletak di cincin planet itu. Temuan ini didapat dari data yang dikumpulkan oleh Cassini yang mengakhiri misinya pada 2017 lalu. Permukaan bulan-bulan kecil tersebut dilapisi oleh materi-materi serupa dengan cincin Saturnus serta pertikel es dari satelit terbesar Saturnus, Enceladus.

Peneliti menemukan bahwa bulan-bulan ini memiliki permukaan yang berpori. Mengindikasikan bahwa, bulan-bulan kecil tersebut terbentuk bertahap sejalan dengan memadatnya material cincin yang berkumpul pada inti objek.

Diperkirakan material pembentuk Bulan Saturnus ini sebelumnya merupakan sisa-sisa objek besar yang pernah hancur. Sehingga, hal ini yang menjelaskan mengapa bentuk bulan-bulan ini yang tidak bulat sempurna, melainkan berbentuk agak pipih dengan banyak material yang terjebak di sekitar garis khatulistiwa Saturnus.


"Kami menemukan bulan-bulan ini mengandung partikel debu dan es dari cincin Saturnus. Partikel tersebut kemudian mengelilingi garis khatulistiwa dari bulan-bulan ini. Jika ada gravitasi pada benda ini, tentunya bentuknya akan lebih bulat, karena gravitasi menarik materi-materinya," kata Bonnie Buratti, salah satu anggota Laboratorium Propulsi Jet di Pasadena, California.

Buratti adalah pemimpin penelitian dari 35 penulis yang mempublikasikan tulisan terkait temuan ini pada 28 Maret lalu.

"Kami sedang mencari lebih banyak bukti bagaimana cincin Saturnus, serta sistem bulannya bisa sangat aktif, dan dinamis," lanjut Buratti

Daphnis dan Pan, dua bulan kecil yang paling dekat dengan Saturnus, memiliki partikel cincin paling banyak. Sementara Atlas, Prometheus, dan Pandora, yang berada lebih jauh dari Saturnus, juga memiliki partikel cincin, namun materi dari partikel tersebut tertutup oleh lapisan es dan uap air.

Hal ini disebabkan karena bagian luar cincin Saturnus memiliki banyak partikel es. Sementara uap air berasal dari salah satu bulan Saturnus, Enceladus.

Cassini mengirimkan data-data ini menggunakan Pemeta Panjang Gelombang (Visible and Infrared Mapping Spectrometer) yang mengirimkan gambar cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia, serta cahaya inframerah.

Cassini yang berada pada posisinya yang paling dekat dengan Pan, dapat membuat peta spektral (peta warna) yang menjelaskan komponen pembentuk Bulan kecil tersebut, beserta 4 Bulan lainnya.

Meski demikian, para peneliti masih bertanya-tanya bagaimana bulan-bulan ini dapat terbentuk. Dilansir dari blog Laboratorium Propulsi Jet, NASA akan menggunakan data yang ada untuk menciptakan model, beserta skenario-skenario pembentukan bulan-bulan kecil tersebut.

"Apa bulan-bulan di planet es lain seperti Uranus dan Neptunus berinteraksi dengan 'cincin' planet tersebut yang ukurannya lebih tipis untuk menciptakan bentuk yang serupa seperti bulan-bulan kecil di Cincin Saturnus?" tanya Buratti. "Ini adalah pertanyaan yang ingin dijawab untuk misi berikutnya," lanjutnya.

Misi Cassini selesai pada September 2017 karena tipisnya sisa bahan bakar. Untuk menghindari bangkai Cassini berbenturan dengan Bulan-Bulan Kecil tersebut, tim pengendali mengarahkan Cassani agar jatuh ke atmosfer Saturnus. (lea/eks)