Indonesia Paling Banyak Pasang Aplikasi Android Berbahaya

CNN Indonesia | Rabu, 03/04/2019 12:47 WIB
Indonesia Paling Banyak Pasang Aplikasi Android Berbahaya Ilustrasi (CNN Indonesia/Aditya Panji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia merupakan negara terbanyak yang menginstal aplikasi Android berbahaya di Google Play Store. Hal ini terungkap dari laporan keamanan Android tahun 2018 yang keluar Maret lalu. Pengguna Indonesia memiliki kecenderungan untuk menginstal aplikasi berbahaya ketimbang India, Amerika Serikat, Brazil, Indonesia, serta Rusia. Ini adalah lima besar negara pengguna Android dimana Indonesia menjadi negara pengguna Android keempat terbanyak di dunia.

Aplikasi yang dikategorikan berbahaya ini lantaran mengandung virus trojan, spyware, bisa mengunduh malware secara diam-diam, phising, serta yang paling banyak menggunakan trik 'klik penipuan'. 'Klik penipuan' adalah aktivitas dimana pengguna dibuat berkali-kali menekan tombol iklan agar pemilik situs dapat mendapatkan pendapatan dari iklan yang ditampilkan oleh perusahaan pengiklan, seperti contohnya, Google AdSense. 

Google sendiri mengklaim telah berusaha menekan aplikasi-aplikasi berbahaya ini dan mengimbau agar pengguna berhati-hati ketika menginstal aplikasi Android jika didapat dari luar ekosistem Play Store. Misal, mengunduh dari toko aplikasi pihak ketiga atau mengunduh dari situs tertentu yang tidak terbukti dapat dipercaya. 


Selain itu, Google juga meminta pengguna agar kerap memperbarui sistem operasinya. Sebab, semakin baru sistem operasi Android yang digunakan, semakin bagus perlindungannya terhadap aplikasi berbahaya yang mereka kategorikan sebagai 'aplikasi berpotensi merusak' (PHA).

Sebagai contoh, Android versi Lolipop yang sudah berusia 5 tahun memiliki aplikasi PHA terinstall paling banyak sebesar 0,64 persen. Sementara Android Pie yang baru dirilis pada tahun 2018, menduduki peringkat paling rendah (0,18 persen).

Masih dari laporan yang sama, Google menyebut saat ini aplikasi yang diindikasikan berbahaya di PlayStore kurang dari 1 persen. Aplikasi berbahaya pada 2018 ada di angka 0,4 persen dari keseluruhan aplikasi Playstore. Jumlah ini bertambah dibanding 2017 yang ada di angka 0,2 persen.

Bila dijabarkan dalam bentuk angka satuan, berdasarkan perkiraan Sensor Tower, ada 31 juta aplikasi PHA, dari 76 miliar jumlah download aplikasi Android pada tahun 2018. Meski demikian, Google mengklaim bahwa jumlah aplikasi yang berkategori PHA telah menurun sebesar 31 persen selama tahun 2017 ke 2018. 

Dilansir dari BGR, penambahan ini dipengaruhi akibat mereka menambahkan klasifikasi tipe aplikasi yang masuk kategori PHA. Pada 2018, aplikasi yang menggunakan trik 'klik penipuan' dimasukkan pada daftar PHA. 

Sebagian besar aplikasi 'klik penipuan' memiliki fitur yang memang diinginkan pengguna, seperti memutar musik, atau permainan video. Namun, ternyata selain mengklik fitur yang dipakai pengguna, di belakang layar ternyata klik tersebut turut mengaktifkan klik iklan. 

"Kebanyakan aplikasi yang kami tarik pada tahun 2018 adalah karena kode 'klik penipuan' dicantumkan ke  dalam aplikasi merupakan aplikasi senter, pemutar musik, atau permainan. Pengembang menyuntikkan kode tersebut ke dalam aplikasi yang akan digunakan setiap hari, dan terinstall untuk waktu yang lama," tulis Google dalam laporannya.

Google mengklaim bahwa ketentuan peraturan yang diperketat, antarmuka aplikasi program yang bersifat pribadi, serta Playprotect, fitur Google Playstore untuk mendeteksi malware, telah berkontribusi memangkas penyebaran PHA. Perusahaan tersebut juga berkata pada kuartal keempat tahun 2018, sebanyak 84 persen perangkat android telah dilindungi dengan pembaruan keamanan terbaru, angka ini merupakan peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2017, pada kurun waktu yang sama.




(lea/eks)