Pesawat Ruang Angkasa Israel Masuki Orbit Bulan

CNN Indonesia | Minggu, 07/04/2019 09:13 WIB
Pesawat Ruang Angkasa Israel Masuki Orbit Bulan Pesawat ruang angkasa milik Israel, Beresheet. (Foto: handout by SpaceIL and Israel Aerospace Industries)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat ruang angkasa milik Israel, Beresheet dilaporkan memasuki orbit Bulan. Langkah ini menjadi manuver kunci setelah proses memasuki orbit Bulan melenceng dari jadwal semula yang seharusnya terjadi pekan lalu.

Beresheet dilaporkan melakukan manuver saat berada di titik terendah dengan jarak 500 kilometer dari permukaan Bulan. Sementara manuver terhitung sukses jika Beresheet mampu berada di jarak 500 kilometer hingga 10 ribu kilometer dengan Bulan.

"Manuver ini memungkinkan Beresheet tertangkap gravitasi Bulan dan mulai memutari orbitnya," ungkap rekanan proyek.


Mengutip Space, Beresheet berhasil melewati titik terdekatnya ke Bumi untuk terakhir kalinya pada jarak 1.700 km dan terus berada di titik terdekat dengan bulan pada kisaran jarak 400 ribu km.

Kendati demikian, tim dari stasiun pemantau di bumi mengingatkan adanya potensi kegagalan. Jika hal itu terjadi maka Beresheet bisa terlontar keluar dari orbit Bulan dan Bumi kemudian berakhir memasuki orbit benda angkasa lain di tata surya.

Lima hari setelah diluncurkan pada 22 Februari lalu, Beresheet sempat dilaporkan mengalami kendala saat melakukan manuver perdananya ketika berada di jarak 69.400 kilometer dari Bumi.

Israel menargetkan bisa mencetak sejarah pada peluncuran Beresheet, pertama menjadi misi ke Bulan pertama negara tersebut dan kedua sebagai misi pertama yang sepenuhnya dibiayai oleh sektor privat.

SpaceIL, perusahaan nirlaba Israel, dan kontraktor pertahanan milik negara Israel Aerospace Industries (IAI) merogoh kocek US$100 juta untuk mendanai proyek ini. Beresheet yang dalam bahasa Ibrani memiliki arti 'pada awalnya' diluncurkan dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral, Florida pada Kamis (21/2) malam.

Jika misi ini berhasil, maka Israel akan menjadi negara keempat setelah Amerika Serikat, Rusia, dan China yang melakukan misi pendaratan ke Bulan.

Melansir Channel News Asia, robot seukuran mesin cuci piring atau seberat 585 kg ini memboyong instrumen sains untuk mengukur medan magnet yang bisa mencari awal mula terbentuknya Bulan. (lea/evn)