Atmosfer Pluto Diprediksi Beku dan Hilang pada 2030

Tim, CNN Indonesia | Senin, 29/04/2019 14:17 WIB
Atmosfer Pluto Diprediksi Beku dan Hilang pada 2030 Ilustrasi. (REUTERS/NASA/JHUAPL/SwRI/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia -- Astronom dari Universitas Tasmania Amerika Serikat Andrew Cole memprediksi atmosfer yang ada di Pluto akan membeku bahkan menghilang pada 2030. Hal ini dia temukan usai mempelajari perubahan musim yang ada di permukaan Pluto.

Dilansir dari Digital Trends, Cole dan tim mempelajari perubahan musim di Pluto menggunakan teknik okultasi bintang. Okultasi terjadi ketika benda seperti Bulan atau planet menghalangi cahaya yang datang ke Bumi dari benda yang lebih jauh seperti Bintang.

Dengan mengamati bagaimana Pluto menghalangi cahaya dari Bintang yang jaraknya jauh, temuan terkait kerapatan, tekanan dan suhu di atmosfer Pluto dapat diukur.


"Kami meneliti bagaimana Pluto merespon perubahan dengan jumlah cahaya matahari yang diterimanya saat mengorbit Matahari," kata Cole dikutip dari Sci News.
"Apa yang kami temukan adalah ketika Pluto berada paling jauh dari Matahari dan selama musim dinginnya di belahan Bumi utara, nitrogen membeku dari atmosfer."

Pluto sendiri merupakan planet terkecil, terdingin, dan paling jauh dengan atmoser yang ada di Tata Surya. Ia mengorbit Matahari setiap 248 tahun dan suhu di permukaannya antara minus 228 hingga 238 derajat celcius.

Selain itu, atmosfer yang ada di Pluto terdiri dari nitrogen dengan jejak metana dan karbon monoksida dan atmosfer ini bakal berubah seiring berjalannya waktu. Menurut Cole dan tim, tekanan atmosfer pada permukaan Pluto telah meningkat tiga kali lipat selama 30 tahun terakhir.

Sejumlah planet kecil di Tata Surya memang menunjukkan bahwa sebagian besar atmosfernya akan mengembun ke luar sampai tidak ada yang tersisa.
"Kami memprediksi bahwa pada 2030 atmosfer [Pluto] akan membeku dan menghilang. Jika atmosfer itu membeku, Pluto mungkin akan terlihat lebih cerah karena pantulan dari sinar Matahari," ujar Cole.

Hasil penelitian ini juga akan digunakan untuk menjadi pembanding dengan misi New Horizons NASA yang telah mengumpulkan data selama penerbangannya di Pluto sejak 2015 silam. (din/age)