Bus Listrik TransJakarta Terintegrasi Mikrobus Jak Lingko

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Senin, 29/04/2019 15:05 WIB
Bus Listrik TransJakarta Terintegrasi Mikrobus Jak Lingko Prototipe bus listrik untuk Transjakarta. (Foto: CNN Indonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT TransJakarta mengatakan bus listrik yang disediakan perusahaan mitra dan sedang diuji pemakaiannya diproyeksikan selesai administrasi pada Juni 2019. Nantinya operasional bus listrik itu terintegrasi dengan skema Jak Lingko.

bukan pihaknya yang akan mengoperasikan bus listrik secara langsung. Pihak yang mengoperasikan bus listrik adalah operator dengan skema yang sama dengan Jak Lingko.

Jak Lingko merupakan sistem transportasi publik yang rute dan pembayarannya terintegrasi menggunakan satu kartu. Berdasarkan penjelasan di situs transjakarta.co.id, masyarakat yang punya kartu Jak Lingko bisa memanfaatkan transportasi darat di Jakarta dengan tarif Rp5 ribu per tiga jam.


Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan sejauh ini sudah ada lima operator yang menandatangani Memorandum of Understanding terkait pengoperasian bus listrik.

"Nantinya mereka yang akan mengoperasikan dan Transjakarta membayar layanan para operator itu seperti dengan skema Jak Lingko di mana kami membayar rupiah per kilometer," ujar Agung usai acara pra-uji coba bus listrik di Balai Kota, Jakarta, Senin (29/4).

Agung mengatakan pembayaran rupiah per kilometer bus listrik akan berbeda penghitungan dengan bus berbahan bakar minyak. Pasalnya ada perbedaan biaya operasional dalam urusan penggunaan energi atau bahan bakar yang digunakan kendaraan.

Agung mengatakan hari ini pihaknya melakukan pra uji coba pada dua bus dan satu mini bus. Satu bus dan minibus merupakan buatan BYD yang diimpor dari China serta bus lainnya merupakan produksi Mobil Anak Bangsa (MAB).

MAB merakit bus listrik dengan motor listrik dan baterai impor dari China lantas dibungkus karoseri buatan New Armada di Magelang, Jawa Tengah.

"Tentunya rupiah per kilometer untuk listrik ini akan berbeda dibandingkan dengan BBM. Karena itu kita perlu melakukan uji coba yang tadi disampaikan Gubernur sampai dengan 10 armada," kata Agung.

Agung mengatakan di kota asal BYD, Shenzen, perusahaan itu menyediakan 16 ribu bus listrik. Dia mengatakan kualitas BYD tidak perlu diragukan lagi.

"Di Shenzhen, 100 persen bus listrik adalah bus listrik dari BYD. Jadi secara kualitas sangat terbukti," kata Agung.

Selain BYD, Transjakarta juga turut menggandeng MAB untuk mendorong perkembangan industri dalam negeri.

"MAB sendiri sebuah upaya inovasi dari bangsa kita untuk mengembangkan juga teknologi bus listrik ini. Kami selain juga menginginkan kualitas yang baik, kami mendukung pengembangan industri dalam negeri yang memenuhi standar-standar yang kami tetapkan," kata Agung. (jnp/fea)