YouTube Ungkap Alasan Video Bisa Masuk 'Trending'

CNN Indonesia | Rabu, 01/05/2019 11:27 WIB
YouTube Ungkap Alasan Video Bisa Masuk 'Trending' Ilustrasi (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- YouTube mengatakan agar sebuah video atau konten masuk ke jajaran video "trending" tidak cukup dengan rutin mengunggah setiap hari.

Director of YouTube Global Creator & Artist Development Chris Schremp mengatakan algoritme YouTube lebih rumit dari itu, sehingga hanya dengan mengunggah video setiap hari tidak menjadikan video tersebut masuk ke jajaran video yang sedang populer (trending tab).

"Ini tidak benar. Trending tab adalah kombinasi dari banyak hal yang berkaitan dengan apa yang terjadi saat itu. Seperti apa yang sedang menjadi tren saat itu, kata Schremp ketika ditemui usai acara jumpa pers YouTube Pop-Up Space di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (30/4).


Schremp mengatakan algoritme YouTube menentukan trending dengan cara menganalisis seberapa relevan konten yang YouTuber buat dengan yang pengguna sedang cari.

"Semakin relevan, maka alogritme akan membaca bahwa topik atau konten tersebut trending," ujar Schremp.

Ia menjelaskan tanpa pengunggahan setiap hari, sebuah konten atau video juga bisa masuk ke tab Trending. Meskipun YouTuber hanya mengunggah konten seminggu sekali.

Trending tidak membutuhkan pengunggahan tiap hari. Trending hanya representasi tentang konten apa yang sedang ingin ditonton oleh penonton." kata Schremp.

Schremp mengatakan kreator tak harus membuat konten yang sesuai dengan tren untuk menjadi seorang YouTuber sukses. Pasalnya penonton akan meninggalkan channel kreator tersebut.

Oleh karena itu, Schremp mengatakan YouTuber harus memiliki konten otentik yang menjadi identitas channel. Jadi ketika sedang ada tren, YouTuber ini tetap konsisten membuat konten otentiknya tanpa perlu memikirkan membuat konten sesuai tren.

Kalau mengikuti tren memang bisa jadi jalan pintas. Karena ini tidak akan berlangsung lama. Penonton akan meninggalkan channel apabila tidak memiliki konten otentik," ujar Schremp (jnp/eks)